Ungkap Kendala Regulasi Mobil Listrik, Menteri ESDM Sebut Masih Banyak Pro-Kontra
Instagram/ignasius.jonan
Nasional

Perdebatan soal pro dan kontra produksi kendaraan listrik di kalangan menteri rupanya sudah berlangsung lebih dari setahun. Jonan pun berharap Perpres terkait bisa segera diterbitkan.

WowKeren - Tampaknya wacana pengembangan mobil listrik di Indonesia disikapi serius oleh pemerintah. Terbukti dari pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan yang menyebut bahwa Peraturan Presiden (Perpres) terkait mobil listrik sedang dalam proses pembuatan.

"Kami sedang menunggu Peraturan Presiden mobil listriknya. Perpres mobil listrik akan menentukan seperti apa arah mobil listrik di Indonesia," kata Jonan ketika ditemui di Jawa Timur beberapa waktu lalu. "PPnBM, bea masuk, kandungan lokal dalam negeri, assembling-nya seperti apa, kita akan mempelajari setelah policy-nya keluar."

Penerbitan regulasi itu, ujar Jonan, harus melewati sejumlah kendala. Salah satunya soal sikap menteri yang belum satu suara, masih ada yang pro dan kontra terhadap wacana pengadaan mobil listrik ini. Bahkan perdebatan di kalangan menteri sudah berlangsung lebih dari setahun.

"Peraturan Presiden ditunggu hampir 1,5 tahun, debat antar menteri tidak selesai-selesai," ungkap Jonan seperti dikutip Antara, Senin (29/7). "Ada yang pro mobil listrik, ada yang melawan. Ini semestinya harus selesai."


Perdebatan panjang ini, jelas Jonan, terutama terkait dengan pembahasan komponen lokal yang akan membantu dalam proses produksi kendaraan listrik nasional. "Kalau menunggu komponen lokal dibangun seratus persen, saya kira (orang-orang) yang bikin peraturan sudah pensiun juga enggak jadi."

Nantinya Perpres ini akan menjadi regulasi awal atas produksi mobil listrik di Indonesia. Selanjutnya akan dirancang Peraturan Menteri Keuangan untuk memberikan insentif kepada para produsen mobil listrik dalam negeri. "Nanti tanyakan ke Ibu Menteri Keuangan, insentifnya seperti apa," tuturnya.

Kendaraan listrik ini diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi kuota impor bahan bakar minyak (BBM). Pasalnya, jelas Jonan, bahan bakar kendaraan listrik dapat diproduksi di dalam negeri seperti batu bara, gas, angin, maupun matahari.

"Orang tanya, bagaimana mengurangi impor BBM?" ujarnya. "Dalam jangka panjang mobil listrik didorong (untuk diproduksi), dikasih insentif dan sebagainya, PPnBM dan bea masuk."

Sebelumnya Jonan juga mengungkapkan optimismenya atas produksi mobil listrik ini. Apalagi bila sektor-sektor lain seperti perindustrian dan keuangan mendukung rencana ini.

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait