Kiara Geram Pertamina Minta Nelayan Bersihkan Limbah Berbahaya Tanpa Pengaman di Perairan Karawang
Nasional

Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) geram dengan Pertamina yang hanya membekali pakaian pengaman pada karyawan mereka saja yang memungut limbah.

WowKeren - Kebocoran minyak pipa dan gas pada proyek Hulu Energi Offshore North West milik Pertamina membuat pesisir di perairan Karawang tercemar. Akibatnya, nelayan tak bisa lagi mencari ikan melainkan harus membersihkan limbah tersebut.

Para nelayan tersebut "mendadak" menjadi buruh harian lepas PT Pertamina untuk membersihkan limbah yang mencemari pesisir Karawang hingga Muara Gembong, Jawa Barat. Adapun kebocoran minyak tersebut terjadi pada anjungan YYA-1 sejak Jumat (12/7) lalu. Menindaklanjuti hal ini, Pertamina pun memobilisasi nelayan untuk mengangkut limbah dari perairan.

Hal ini membuat Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) geram. Pasalnya, Pertamina tak membekali para nelayan dengan alat pengaman khusus saat memungut limbah-limbah tersebut. Hanya karyawan Pertamina saja yang diberi pengaman khusus. Sekjen Kiara Susan Herawati menilai apa yang dilakukan Pertamina adalah hal yang tak patut.


"Nah ini kan jadi konyol, kalau memang betul itu adalah orang perusahaan dia sudah tau konsekuensinya itu apa. Hanya mereka yang dipakaikan safety seperti itu," kata Susan di Jakarta Pusat, Senin (29/7). "Masyarakat tidak dibekali, mereka yang disuruh mungut. Ini kan sama saja merendahkan sekali Pertamina ini."

Padahal, limbah yang merambah ke pesisir Karawang mengandung zat berbahaya yang disebut Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAH). Bersama dengan Jaringan Advokasi Tambang, Kiara menuntut Pertamina untuk segera mengambil tindakan agar tidak mengorbankan kesehatan para penduduk di kawasan pesisir.

Sebagai "uang lelah", Pertamina memberikan pembayaran sebesar Rp 1,5 juta untuk setiap empat nelayan yang memungut limbah dengan satu perahu. "Jadi satu peran itu ditentukan ada kuota 50-60 karung dan kompensasinya Rp 1.500.000," ujar Susan.

Para nelayan, dikatakan Susan, mau tidak mau harus menjadi "buruh harian lepas" agar mereka bisa kembali beraktivitas mencari ikan di laut. "Jadi ketika melihat lautnya tercemar oleh limbah yang sedemikian rupa otomatis mau tidak mau mereka turun dan membersihkan," ujarnya.

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait