Sesuai jadwal, Gunung Tangkuban Parahu sudah dibuka untuk umum mulai Kamis (1/8) kemarin. Namun gunung tersebut justru kembali mengalami erupsi pada malam harinya.
- Elvariza Opita
- Jumat, 02 Agustus 2019 - 10:03 WIB
WowKeren - Diketahui Gunung Tangkuban Parahu, Bandung, Jawa Barat telah dibuka kembali untuk umum mulai kemarin (1/8). Namun rupanya keputusan ini perlu ditinjau ulang, sebab gunung setinggi 2.084 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu kembali mengalami erupsi pada Kamis (1/8) malam.
Informasi ini disampaikan oleh Pusat Vulkanologi, Mitigasi, dan Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM. Data pusat PVMBG Pos Pengamatan Gunung Tangkuban Parahu menyebut gunung itu kembali meletus sekitar pukul 20.46 WIB dan menghasilkan kolom abu setinggi 180 meter dari dasar kawah.
Kolom abu tersebut teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal mengarah ke utara dan timur. Letusannya terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 50 milimeter dan durasi sekitar 11 menit 23 detik, dilansir dari Antara.
Menghadapi situasi tersebut, PVMBG masih menetapkan Gunung Tangkuban Parahu pada status level I atau normal. Namun PVMBG mengeluarkan tiga rekomendasi terkait.
Satu, PVMBG menetapkan radius aman sejauh 500 meter dari kawah aktif. Kendati tak melarang pengunjung, wisatawan atau pendaki, PVMBG meminta mereka untuk tak mendekati kawah yang berada di puncak gunung.
PVMBG juga meminta masyarakat untuk mewaspadai peningkatan konsentrasi gas-gas vulkanik dan diimbau agar tidak berlama-lama di sekitar kawah aktif Gunung Tangkuban Parahu. Sedangkan rekomendasi terakhir, masyarakat diminta untuk mewaspadai terjadinya letusan freatik.
Untuk diketahui, letusan freatik kerap terjadi di Gunung Tangkuban Parahu. Letusan ini patut diwaspadai sebab biasanya tidak didahului oleh gejala vulkanik serta bersifat tiba-tiba.
Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil telah mengumumkan pembukaan kembali jalur umum untuk Gunung Tangkuban Parahu. Namun Ridwan mengajukan sejumlah rekomendasi untuk pengelola, seperti memperbaiki sistem evakuasi dan meningkatkan komunikasi dengan warga sekitar.
"Bisa dibuka dengan syarat perbaikan-perbaikan, antara lain (perbaikan) rute-rute evakuasi lewat poster atau papan informasi harus dibuat dan selesai besok, lalu diperlihatkan ke saya," kata Ridwan, Rabu (31/7). "Sehingga pengunjung bisa tahu ke mana harus bergerak bila ada kejadian serupa."
"Lalu harus ada WA grup antara pengelola dengan Muspida dan Kepala Desa di radius lima kilometer," imbuhnya. "Sehingga kalau ada kejadian lagi jangan seperti kemarin. Banyak yang tidak tahu (dan) malah tahunya dari viralisasi di medsos."
(wk/elva)