Titik Semburan Lumpur di Kutisari Surabaya Bertambah Menjadi Dua
Nasional

Warga Kutisari, Surabaya pada Senin (23/9) lalu dikejutkan dengan munculnya titik semburan lumpur dan gas di halaman rumah. Setelah dua hari, titik semburan tersebut ternyata bertambah menjadi 2 titik.

WowKeren - Baru-baru ini warga Perumahan Kutisari Indah Utara III/19, Kecamatan Tenggilis Mejoyo, Kota Surabaya, Jawa Timur, dikejutkan dengan semburan lumpur bercampur minyak dan gas yang keluar dari pekarangan warga. Namun, pada Rabu (25/9) titik semburan tersebut bertambah hingga menjadi dua titik.

Keamanan PT Classic Prima Carpet Industries (CPCI), Ahmad Fauzi menyebutkan jika gelembung semburan lumpur tersebut hanya keluar di satu titik pada dua hari sebelumnya, Senin (23/9). Namun pada Rabu (25/9) titik ini bertambah menjadi dua.

"Titik ini berbeda dengan titik yang kemarin," katanya dilansir Antara. Menurutnya, pihak Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya masih melakukan sejumlah tes untuk mengetahui zat limbah semburan lumpur melalui pengambilan sampel semburan lumpur.

Pihak pihak ITS dan DLH menggunakan "enviromental test meter" atau alat untuk mengukur tingginya kadar gas SO2, NO, O3, CO, serta suhu. Alat tersebut terpasang di lokasi semburan gas untuk memantau kadar gas yang dikeluarkan semburan.


"Hasil tes belum dikeluarkan, belum ada solusi yang diberikan," kata Setiawan, suami si pemilik rumah. "Penyebabnya pun kami semua belum ada yang tahu, tapi memang daerah ini sudah beberapa kali ada kejadian semburan lumpur."

Sebelumnya, sopir dari pemilik rumah Imam Kambali mengatakan jika semburan yang keluar pada hari Senin (23/9) masih berbentuk lumpur sehingga ditampung ke dalam karung. Namun pada keesokan harinya, semburan tersebut mulai mengeluarkan minyak sehingga ditampung ke dalam drum. "Jadi dari kemarin sampai hari ini sudah ada totalnya 11 drum," ujarnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya Eko Agus Supiadi sendiri telah melakukan pengecekan terhadap semburan lumpur dan minyak tersebut. Ia menilai jika semburan tersebut bisa masuk dalam kategori berbahaya karena kualitas udara di sekitar lokasi kejadian ada peningkatan, atau tepatnya ada peningkatan suhu udara.

"SO2 (sulfur dioksida)-nya di atas rata-rata, melebihi batas mutu," ujarnya. Eko pun menyebut bahwa batas normal SO2 adalah 900 mikrogram per meter kubik. Sementara, dari pengukuran yang dilakukan di lokasi semburan dengan alat gas monitoring kit, kadar SO2-nya mencapai 1.396,36.

Hasil pengecekan sementara juga mengandung belerang. "Untuk tindakan lanjutan, DLH Surabaya akan terus berkomunikasi dengan tim dari Energi Sumber Daya Manusia (ESDM) Provinsi Jatim," tutup Eko.

(wk/wahy)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait