Heboh Pasangan Wajib Sertifikasi Pra-Nikah, Menag Fachrul Buka Suara
Nasional

Menko PMK Muhadjir Effendy mewacanakan calon pasutri harus mengantongi sertifikat pra-nikah sebelum mengikat janji. Sedianya program ini akan dilaksanakan mulai 2020 mendatang.

WowKeren - Perkara menikah kini tak lagi semudah biasanya. Tak lagi bermodalkan cinta dan mengurus sejumlah berkas di Kantor Urusan Agama, kini calon pasangan suami istri harus mengantongi sertifikat pra-nikah.

Wacana ini disampaikan pertama kali oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy pada Rabu (13/11) lalu. Bila diterapkan, maka calon pasutri yang akan menikah pada 2020 mendatang harus mengantongi terlebih dahulu sertifikat dari kelas bimbingan pra-nikah sebelum mengikat janji.

"Kalau bisa tahun depan, 2020, sudah mulai," kata Muhadjir. "Untuk memastikan bahwa dia memang sudah cukup menguasai bidang-bidang pengetahuan yang harus dimiliki, itu harus diberikan sertifikat."

Menurut Muhadjir, program ini akan melibatkan dua kementerian, yakni Kementerian Kesehatan dan Kementerian Agama. Lantas bagaimana pendapat Menag Fachrul Razi soal rencana ini?

Rupanya Fachrul mendukung rencana Muhadjir tersebut. Menurutnya, gagasan itu serupa dengan program bimbingan perkawinan (bimwin) yang diselenggarakan Kemenag selama dua tahun terakhir.


"Bimbingan perkawinan digelar untuk membekali calon pengantin dalam merespons problem perkawinan dan keluarga," jelas Fachrul, seperti dikutip dari situs resmi Kemenag, Jumat (15/11). "Mempersiapkan mereka agar terhindar dari problem perkawinan yang umum terjadi, serta meningkatkan kemampuan mewujudkan keluarga sakinah."

Menurut Fachrul, sejauh ini program bimwin di bawah kementeriannya sudah dijangkau ratusan ribu calon pengantin. Namun angka itu tentu tak sebanding dengan jumlah rata-rata pernikahan yang mencapai dua juta setahun.

Oleh karena itu, menurut Fachrul, program sertifikasi pra-nikah yang diwacanakan Muhadjir dapat bersinergi dengan programnya. Bila berhasil, harapannya pelaksanaan program ini bisa semakin masif.

"Ada 1.928 fasilitator bimwin yang telah lulus bimbingan teknis, ini hanya dari unsur penghulu dan penyuluh Kemenag serta ormas Islam," jelasnya. "Jika disinergikan dengan penyuluh kesehatan dan psikolog, mungkin akan lebih efektif lagi."

Kendati menuai pro dan kontra, tampaknya Muhadjir tetap teguh pada pemikirannya soal sertifikasi pra-nikah ini. Sebab menurutnya pengetahuan, terutama dari segi kesehatan, sebelum pernikahan merupakan hal penting demi menghasilkan generasi penerus bangsa yang berkualitas mumpuni.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts