Ustaz Abdul Somad kembali mengeluarkan pernyataan kontroversial yang mengharamkan permainan catur. Merespon hal tersebut Menag Fachrul Razi pun turut memberikan komentarnya.
- Nidya Putri
- Jumat, 22 November 2019 - 14:30 WIB
WowKeren - Nama Ustaz Abdul Somad (UAS) kembali menjadi sorotan karena pernyataannya yang kontroversial. Setelah mengharamkan drama Korea, kali ini pria berusia 42 tahun tersebut menilai jika permainan catur haram karena membuang waktu.
Adanya pernyataan tersebut, Menteri Agama (Menag) [c=Fachrul Razi) pun enggan menanggapinya. Menurutnya pendapat pendakwah kelahiran Asahan, Sumatera Utara itu tak perlu dikomentari.
"Halah.. kalau begitu-begitu enggak usah ditanggapi lah kalau begitu. Malu, diketawain orang banyak," kata Fachrul di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Jumat (22/11). "Karena orang bisa lihat dari referensi manapun."
Fachrul mengatakan jika pada zaman sekarang, orang bisa dengan mudah untuk mendapatkan alternatif pandangan terkait suatu masalah. Sehingga pendapat pun tidak bisa dimonopoli oleh satu pihak saja.
Lebih lanjut, ia menganalogikan pernyataan UAS yang mengharamkan permainan catur dengan diagnosa yang dilakukan oleh dokter kepada pasiennya. "Saya selalu bilang ya, sekarang orang tidak bisa mengklaim paling tahu, paling hebat. Karena dokter spesialis pun bisa dituntut pasien yang tidak tahu apa-apa," kata Fachrul.
"Dia (pasien) bisa mengatakan: dok, Anda salah ngasih obat ke saya. Obat yang Anda kasih dampak negatifnya sangat banyak," sambungnya. " (Dokter bisa balas) Loh saya dokter spesialis. (Pasien membalas) Lha saya baca dari ratusan dokter spesialis lain."
Soal pernyataan kontroversial ustaz kondang ini sendiri sebelumnya telah mendapatkan respon dari Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PB Percasi, Kristianus Liem. Menurutnya, pernyataan UAS ini salah kaprah terkait hukum mengharamkan olahraga catur.
"Ustaz Abdul Somad mungkin tidak tahu situasi. Dia pikir hanya yang di kampung-kampung yang main hingga lupa waktu," ujar Liem dilansir Suara.com, Kamis (21/11). "Kami di Percasi minimal latihan satu hari itu enam jam. Itu dibagi dua sesi. Kita kebanyakan bahas strategi, bukan main."
"Main itu saat jelang pertandingan, agar pola dan irama berpikirnya cocok dengan nomor yang dipertandingkan," sambungnya. Ia juga menambahkan jika bahasan soal haram tidaknya suatu kegiatan tidak relevan untuk dibahas.
(wk/nidy)