Din Syamsuddin: Yang Bilang Pancasila Harga Mati Itu Radikal
Nasional

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, menuturkan bahwa baik kata radikal maupun radikalisme tidak selalu memiliki makna negatif, namun bisa juga positif.

WowKeren - Cendekiawan muslim, Din Syamsuddin menyoroti penggunaan kata radikal atau radikalisme. Kedua kata tersebut acap kali digunakan untuk menggambarkan sikap ekstrem seseorang. Sedangkan menurut Din, kata radikal tidak selalu bermakna negatif.

Ia menjelaskan bahwa jika dilihat secara arti terminologisnya, kata radikalisme bisa berarti positif dan negatif. Ia kemudian mencontohkan penggunaan kata radikal dalam artian positif.

"Radikalisme itu secara terminologis bisa positif bisa negatif. Karena radikal itu bisa positif, kami berpegang teguh," kata Din di Jakarta Pusat, Rabu (27/11). "Pancasila harga mati, itu radikal, radikal itu akar. Jadi yang bilang NKRI berdasarkan Pancasila harga mati, itu sikap radikal."

Ia kemudian berbicara mengenai cara berpakaian dan paham yang dianut oleh seseorang. Menurutnya, tidak ada keterkaitan langsung antara cara berpakaian seseorang dengan paham yang dimilikinya. Orang yang berjenggot atau memakai celana cingkrang tak serta merta bisa disebut radikal. Justru, cara berpenampilan yang seperti itu dijamin oleh undang-undang karena merupakan bagian dari keyakinan beragama.


"Kalau beragama dan menjalankan dengan syariat yang diyakininya," lanjut Din. "Berjenggot, bercelana cingkrang itu keyakinan beragama yang dijamin konstitusi."

Sementara itu, kebebasan setiap warga negara untuk menjalankan ibadah sesuai keyakinan masing-masing sudah dijamin dalam konstitusi. Sehingga cara berpenampilan yang termasuk salah satu praktik dalam beribadah tidak bisa dilarang.

"Itu (cingkrang atau berjenggot) ada kaitannya dengan terorisme?" tegas mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu. "Yang meledakkan bom kan banyak juga yang pakai celana jins, banyak yang kemudian berpakaian lain."

Lebih jauh, Din berbicara mengenai ekstremisme. Istilah yang berkembang di dunia mengenai sikap yang mengarah pada keinginan mengubah sesuatu yang sudah berakar, disebut dengan ekstremisme.

"Sikap yang melampaui batas, sikap yang tiran. Itu tidak dibenarkan oleh agama manapun, termasuk Islam," kata Din. "Apalagi kalau ekstremisme itu menggunakan kekerasan. Ini yang sekarang menjadi tantangan dunia."

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait