Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengatakan bahwa kualitas sumber daya manusia berperan penting sebagai penggerak roda perekonomian di Indonesia.
- Zodiak Yanuarita
- Kamis, 28 November 2019 - 17:58 WIB
WowKeren - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim berbicara mengenai sumber daya manusia (SDM) di Indonesia. Menurutnya, agar bisa bersaing dengan negara lain, Indonesia perlu meningkatkan lagi kualitas SDM yang dimiliki.
Ditambah lagi, saat ini merupakan era perkembangan teknologi yang kian maju. Sehingga, semuanya dituntut untuk bisa berproses lebih cepat. Inilah yang menjadi persoalan dalam SDM Indonesia.
Menurut Nadiem, SDM di Indonesia masih relatif lambat dalam bekerja. Hal itu terlepas dari kualitas SDM itu sendiri. Meskipun SDM tersebut memiliki kemampuan yang baik namun jika cara bekerjanya masih lambat tetap saja hasilnya kurang maksimal dan akan kalah dengan negara lain.
Nadiem menjelaskan bahwa SDM memainkan peranan penting dalam menggerakkan roda perekonomian di Indonesia. "Kalau kita lihat, perekonomian RI itu drivernya adalah produktivitas SDM Kita. Tapi produktivitas bukan hanya sekedar konseptual tapi nyatanya, yakni juga kecepatan dalam bekerja," ujar Nadiem di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Kamis (28/11).
Ia kemudian mencontohkan salah satu perusahaan Indonesia yang mengirimkan perawat mereka ke Jepang. Perawat yang dikirim untuk menjadi tenaga medis tersebut dikembalikan oleh pihak Jepang hanya tiga bulan setelahnya.
Padahal, para tenaga medis tersebut memiliki kemampuan yang baik. Begitu juga dengan pengetahuan mereka. Namun, alasan dikembalikan ke Indonesia adalah karena mereka kurang gesit dalam bekerja.
"Dalam waktu 3 bulan di kirim balik lagi ke sini (RI), lalu saya tanya kenapa?" lanjut Nadiem. "Dia bilang pengetahuannya baik, skill-nya baik, tapi dikembalikan lagi karena kecepatan mereka kurang."
Lebih lanjut, faktor kecepatan dalam bekerja ini tak hanya dibutuhkan oleh tenaga medis, namun juga tenaga lainnya di semua bidang. Jika hal ini tidak diperbaiki maka akan sulit bagi Indonesia untuk bisa bersaing dengan negara-negara lainnya. "Level produktivitas pekerjaan, mau dia pembantu rumah tangga atau insinyur sekalipun, itu butuh kecepatan," kata mantan CEO Gojek tersebut.
(wk/zodi)