Sri Mulyani Ungkap 7 BUMN Ini Tetap Rugi Meski Sudah Disuntik Dana, Apa Saja?
Nasional

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan kepada Komisi XI DPR bahwa ada 7 Badan Usaha Milik Negara yang sudah disuntik dana, namun masih mengalami kerugian. Inilah ketujuh BUMN tersebut.

WowKeren - Badan Usaha Milik Negara (BUMN) merupakan usaha negara dalam mendapatkan pemasukan negara sekaligus mensejahterakan masyarakat. Perusahaan pelat merah ini tentunya diharapkan memperoleh keuntungan.

Namun, baru-baru ini Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan bahwa ada sebanyak 7 BUMN yang merugi meski sudah mendapatkan suntikan dana dari pemerintah. Hal tersebut diungkapkannya ketika mengikuti rapat dengan Komisi XI DPR pada Senin (2/12).

Rapat tersebut membahas mengenai Penyertaan Modal Negara (PMN) yang diberikan kepada BUMN selama periode 2015 hingga 2018. Namun, pemberian PMN itu dirasa kurang maksimal oleh Sri Mulyani.

Hal ini dapat dilihat dari adanya 7 perusahaan yang masih mengalami kerugian meski sudah diberikan PMN. "Kerugian pada tujuh BUMN yaitu PT Dok Kodja Bahari, PT Sang Hyang Seri, PT PAL, PT Dirgantara Indonesia, PT Pertani, Perum Bulog, dan PT Krakatau Steel," kata Sri Mulyani yang dilansir Kumparan pada Senin (2/12).

Sri Mulyani mengatakan bahwa kerugian itu bukan tanpa alasan yang jelas. Contohnya PT Krakatau Steel yang memiliki beban keuangan selama kontruksi. Selain itu, Perum Bulog rugi karena terdapat kelebihan pendapatan atas penyaluran Rastra.


PT Dirgantara Indonesia juga merugi akibat adanya pembatalan kontrak dan order tidak mencapai target. Sementara itu, PT Dok Kodja Bahari merugi karena beban administrasi dan umum yang terlalu tinggi.

Sedangkan PT Sang Hyang Seri dan PT Pertani merugi akibat inefisiensi bisnis, beban bunga dan perubahan kebijakan pemerintah dalam mekanisme pengadaan benih. Selain itu, PT PAL juga merugi akibat meningkatnya beban lain-lain hingga tiga kali lipat akibat kerugian nilai tukar dan kerugian entitas asosiasi.

Mantan Direktur Bank Duni ini merasa kerugian itu sebagai salah satu beban besar untuk anggaran. Sebab, Sri Mulyani menjelaskan bahwa tugas BUMN juga memberikan dampak ekonomi makro secara keseluruhan.

Meskipun begitu, ketujuh BUMN yang rugi tersebut masih memberikan nilai tambah bagi perekonomian. Hal ini karena dengan adanya penambahan PMN selama 2015-2018, maka nilai proyek juga bertambah.

"Kita tekankan dari sisi kinerja perusahaan dan ekonomi pembangunan. Dengan penambahan PMN selama 2015-2018 sebesar Rp 130,39 triliun dapat mendanai total proyek senilai Rp 356 triliun," kata Sri Mulyani. "Jadi value for money dihitung dari leveraging dari setiap rupiah yang ditanamkan telah menghasilkan 2.72 kali nilai proyek."

(wk/aros)

You can share this post!

Related Posts