Menteri Pendidikan Malaysia, Maszlee bin Malik, mengomentari rencana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim dalam meniadakan Ujian Nasional per 2021 mendatang.
- Bertilia Puteri
- Senin, 16 Desember 2019 - 16:10 WIB
WowKeren - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim diketahui berencana untuk menghapus Ujian Nasional (UN) pada 2021 mendatang. Sebagai gantinya, Nadiem akan membuat program baru, yakni asesmen kompetensi minimum dan juga survei karakter.
Gebrakan Nadiem ini lantas turut dikomentari oleh Menteri Pendidikan Malaysia, Maszlee bin Malik. Menurutnya, Nadiem telah mengambil keputusan bijak.
"Saya kira itu tindakan wajar dan bijak dari Kementerian Pendidikan Indonesia dan ini bukan sesuatu yang baru karena di negara-negara maju sudah lama dilaksanakan," tutur Maszlee dilansir CNN Indonesia pada Senin (16/12). "Demikian pula di Malaysia dan Singapura."
Menurut Maszlee, Malaysia telah menyadari bahwa tujuan pendidikan adalah membentuk manusia secara utuh. Kecerdasan pemikiran, emosi, serta keterampilan sama-sama perlu dibentuk.
"Seorang pelajar itu harus menargetkan kariernya untuk lulus bukan hanya dilihat dari ujiannya semata-mata," ujar Maszlee. "Namun juga pencapaian kemahiran aktivitas dan juga ruang kreativitas serta inovasi."
Maszlee pun mengaku telah merombak sistem ujian akhir di tingkat sekolah dasar demi mendukung hal tersebut. Ia menyebut bahwa setiap sekolah dan guru wajib memberikan evaluasi terintegrasi pada setiap murid. Baik dari sisi kemampuan kognitif, afektif, konatif, hingga psikomotorik.
Hasil evaluasi tersebut nantinya akan memperlihatkan bakat sang peserta didik. Ia pun berharap agar pihak pendidik dan orangtua bijak dalam mengembangkan bakat masing-masing anak sesuai hasil evaluasi tersebut.
"Ini yang berlaku di negara-negara maju. Jadi pada peringkat tiga tahun di awal kita tumpukan pada membaca," jelas Maszlee. "Malah dalam sekolah-sekolah Malaysia kita adakan sudut-sudut pidato di mana setiap murid akan dinilai kemahirannya berpidato."
Lebih lanjut, Maszlee menyebut bahwa materi pendidikan yang dibagikan guru akan dinilai secara bertahap. Sehingga, para peserta didik pada akhirnya bukan sekadar bisa membaca saja, namun juga memahami dan mampu mempraktikkan apa yang telah mereka baca.
"Selain itu mereka mempunyai kemahiran kritikal, mampu menilai apa yang mereka baca dan sejauh mana keperluan bagi kehidupan mereka," jelas Maszlee. "Ini yang paling dasar."
Oleh sebab itu, dalam pendidikan sekolah dasar diutamakan membaca literasi dan berpikir secara keilmuan untuk mengasah kemampuan peserta didik menyelesaikan berbagai permasalahan. "Jadi dari awal kita ingin membangun pola pikir atau mental kelimuan," pungkas Maszlee.
(wk/Bert)