Bukan Perubahan Iklim, Greenpeace Sebut Hujan Ekstrem di Jabodetabek Karena Ini
Nasional

Kepala Greenpeace Indonesia, Leonard Simanjuntak, menyatakan bahwa hujan ekstrem dengan curah yang tinggi dalam kurun waktu semalam menunjukkan indikasi kuat adanya krisis iklim.

WowKeren - Intensitas hujan yang tinggi di wilayah Jabodetabek menyebabkan terjadinya banjir di wilayah tersebut. Meski demikian, Greenpeace Indonesia menyebut bahwa fenomena hujan ekstrem di wilayah itu bukan disebabkan karena perubahan iklim.

Kepala Greenpeace Indonesia, Leonard Simanjuntak, menyatakan bahwa hujan ekstrem menunjukkan indikasi kuat adanya krisis iklim. Hal itu bisa dilihat dari adanya curah hujan ekstrem dalam waktu yang relatif singkat.

"Kalau dari kami melihatnya, merupakan bukti atau indikasi yang kuat bahwa memang kita sudah masuk krisis iklim," kata Leonard dilansir Republika, Jumat (3/1). "Salah satu fenomena yang sudah teridentifikasi kuat sebagai fenomena krisis iklim adalah curah hujan ekstrem yang terjadi pada waktu yang singkat."

Ia mencontohkan, curah hujan ekstrem yang terjadi di wilayah Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta pada 1 Januari 2020 mencapai 377 mm. Fenomena tingginya curah hujan ini relatif merata, yang mana menurut Leonard menunjukkan bahwa Indonesia mengalami fenomena krisis iklim.


Pasalnya, banjir-banjir yang terjadi di Jakarta sebelumnya, tidak pernah memiliki curah hujan mencapai 377 mm dalam waktu semalam. Jumlah curah hujan ini normalnya adalah yang terjadi dalam kurun waktu satu bulan.

"Itu sudah jauh dari curah hujan normal Jakarta dalam satu bulan dan itu terjadi dalam satu malam. Jadi bisa dibayangkan, kalau hujan satu malam sudah lebih dari yang normalnya satu bulan," kata Leonard. "Ini fenomena yang sudah teridentifikasi kuat sebagai fenomena krisis iklim, curah hujan ekstrem yang terjadi pada waktu yang singkat."

Meski demikian, bencana banjir besar yang terjadi di Jakarta tidak hanya diakibatkan oleh curah hujan yang tinggi saja, namun ada faktor lain yang saling mendukung. Selain pengolahan sampah, tata ruang yang kurang baik hingga rusaknya daerah tangkapan air hulu juga menjadi faktor penyebabnya.

"Kalau dalam konteks bencana banjir Jakarta dia berkombinasi dengan kelemahan-kelemahan atau salah urus dari banyak hal," lanjut Leonard. "Di perkotaan, tata tuang, sampah, penurunan muka air tanah kalau di Jakarta utara, dan rusaknya daerah tangkapan air di hulu, jadi dia kombinasi dari itu semua."

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait