Pasca pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani yang diperintahkan Presiden Trump, terungkap Amerika Serikat juga menargetkan untuk membunuh pejabat militer Iran ini.
- Ruth Meliana
- Sabtu, 11 Januari 2020 - 10:03 WIB
WowKeren - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah memerintahkan langsung pembunuhan komandan pasukan elit Quds Iran, Jenderal Qassem Soleimani. Namun baru-baru ini, terungkap jika Jenderal Soleimani bukan satu-satunya target pembunuhan AS.
AS ternyata juga merencanakan untuk membunuh pejabat militer Iran lainnya yakni Abdul Reza Shahlai. Diketahui Abdul Reza Shahlai merupakan pemodal dan komandan kunci pasukan Quds elit Iran di Yaman.
Rencananya, AS akan membunuh Abdul bersamaan dengan pembunuhan Jenderal Soleimani. Sayang, rencana AS tersebut gagal. Adanya informasi terkait rencana operasi pembunuhan tersebut pertama kali diungkapkan oleh Washington Post.
Dilansir CNN, sebuah sumber terpercaya telah memberikan rincian mengenai misi maupun rencana AS dalam membunuh kedua targetnya. Pada Desember lalu, Perwakilan Khusus Departemen Luar Negeri AS untuk Iran, Brian Hook telah berusaha mencari keberadaan Abdul.
Sebelum melancarkan serangan pada Soleimani, Brian Hook sempat mengumumkan jika AS akan memberikan imbalan hingga US$ 15 juta jika ada yang mau memberikan informasi seputar Abdul. Diantaranya adalah tentang kegiatan keuangan, jaringan, dan rekanan Abdul Reza Shahlai.
Sontak berita yang bocor terkait rencana AS untuk membunuh Abdul ini telah mengguncang Kongres AS. Berbagai reaksi telah ditimbulkan oleh Kongres AS kepada Presiden Trump. Terlebih, sebelum berita ini muncul, Kongres AS juga telah mempertanyakan keputusan diam-diam Trump yang memerintahkan untuk membunuh Jenderal Soleimani.
"Kongres membutuhkan jawaban. Apa yang sepenuhnya direncanakan oleh administrasi Trump untuk membunuh para pejabat Iran?," ujar Ro Khanna, anggota Republik Demokrat dari California, seperti dilansir dari CNN. "Bagaimana upaya pembunuhan di Yaman ada hubungannya dengan ancaman yang akan segera terjadi?"
Menanggapi berbagai tudingan dari Kongres AS, pihak Pentagon masih enggan berkomentar lebih banyak untuk menjelaskan serangan tersebut. Mereka hanya mengatakan jika rencana pembunuhan Abdul berkaitan dengan adanya serangan udara di Yaman dan ancaman datangnya teroris ke AS melalui Yaman.
"Kami telah melihat laporan serangan udara 2 Januari di Yaman, yang telah lama dipahami sebagai tempat yang aman bagi teroris dan musuh lainnya ke Amerika Serikat," jelas juru bicara Pentagon, Rebecca Rebarich. "Departemen Pertahanan tidak membahas operasi yang diduga di kawasan itu."
(wk/lian)