Warga Natuna, Kepulauan Riau, menyampaikan rasa keberatan usai pemerintah berencana mengevakuasi WNI dari Wuhan ke wilayah mereka. Kepala BNPB Doni Monardo pun angkat bicara.
- Elvariza Opita
- Sabtu, 01 Februari 2020 - 12:12 WIB
WowKeren - Rencana evakuasi WNI dari Wuhan, Tiongkok sudah menemui titik terang. Sedianya ratusan WNI dari wilayah tersebut akan dievakuasi ke Indonesia pada siang ini (1/2).
Pemerintah menggunakan pesawat Airbus 330 milik Batik Air untuk program evakuasi ini. Nantinya para WNI itu akan langsung diterbangkan ke Natuna, Kepulauan Riau, untuk dikarantina selama 14 hari.
Jelas rencana pemerintah ini langsung menuai kecaman dari warga Natuna serta sang bupati, Abdul Hamid Rizal. Hamid menilai wilayahnya tak punya daya dukung medis yang memadai untuk bisa dijadikan lokasi evakuasi WNI dari Wuhan.
Menanggapi penolakan yang ada, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letnan Jenderal TNI Doni Monardo angkat bicara. Ia menegaskan bahwa WNI yang dievakuasi merupakan warga yang sudah dipastikan kesehatannya.
"Jadi kita akan menjamin, warga yang kembali dalam kondisi sehat, dan prosedur pengamanannya juga akan kita lakukan dengan teliti," ujar Doni di Natuna, seperti dilansir Antara pada Sabtu (1/2). "Ini ketentuan standar dunia, WHO, itu wajib kita ikuti."
Lantas apa alasan pemerintah memilih Natuna sebagai lokasi karantina? Doni pun mengakui bahwa situasi di Natuna yang cenderung jauh dari keramaian masyarakat menjadi pertimbangan utama, di samping karena geografis wilayah itu yang lebih hijau dengan udara segar.
Sekali lagi Doni memastikan WNI yang dievakuasi sudah dipastikan kesehatannya. Mereka harus melakukan serangkaian proses pemeriksaan kesehatan, bahkan mulai dari aspek terkecil seperti suhu tubuh.
Doni pun meralat, WNI yang dievakuasi ke Natuna itu tidak akan diisolasi. Mereka hanya akan ditampung sementara untuk diobservasi selama dua minggu sebelum dikembalikan ke keluarga masing-masing.
Doni bahkan sempat berseloroh, tak akan mungkin pihaknya mencari alternatif solusi yang cenderung meningkatkan peluang tertularnya virus Corona. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk tidak panik karena standar medis yang diterapkan sudah diatur sedemikian rupa.
"Kemudian Bapak Menteri Kesehatan, dan Kepala BNPB, saya, itu berada dimana mereka tiba. Artinya jika mereka itu orangnya sakit dan berisiko tertular, ya rasanya tidak mungkin lah Menteri Kesehatan dan saya, BNPB, berani ambil risiko. Tentu ingin juga menyelamatkan diri sendiri," pungkasnya.
(wk/elva)