Staf rumah sakit di Hong Kong kompak melakukan mogok kerja demi menuntut penutupan secara penuh perbatasan dengan Tiongkok. Aksi ini dilakukan karena mereka tak ingin penyebaran virus Corona meningkat.
- Nidya Putri
- Selasa, 04 Februari 2020 - 12:32 WIB
WowKeren - Wabah virus Corona menjadi momok yang menakutkan untuk seluruh warga negara di dunia. Pada Senin (3/2), ribuan pekerja rumah sakit di Hong Kong melakukan aksi mogok kerja untuk menuntut penutupan perbatasan secara penuh dengan Tiongkok.
Aksi mogok kerja ini dilakukan setelah seorang ahli mikrobiologi terkemuka setuju dengan tuntutan tersebut. "Menutup perbatasan sepenuhnya adalah satu-satunya cara efektif untuk mencegah penyebaran virus," kata ahli mikrobiologi Universitas Hong Kong Dr Ho Pak-leung, dilansir dari SCMP, Selasa (4/2).
Pemerintah Hong Kong sendiri telah menutup layanan kereta api dan feri, tetapi para staf kesehatan menginginkan penutupan perbatasan secara total. Alasan kenapa pemerintah tidak melakukan penutupan secara penuh karena bertentangan dengan saran dari WHO.
Aksi mogok kerja tersebut menyebabkan antrian panjang terjadi di berbagai rumah sakit, seperti Rumah Sakit Queen Elizabeth di Yau Ma Tei dan Queen Mary di Pok Fu Lam. "Jika ada penutupan perbatasan penuh, tidak akan ada cukup tenaga kerja, peralatan pelindung, atau ruang isolasi untuk memerangi wabah itu," kata Winnie Yu, Ketua Aliansi Staf Rumah Sakit yang baru dibentuk, dilansir dari BBC. Mereka pun mengancam akan melakukan aksi tersebut hingga permintaannya dipenuhi.
Sementara itu, mantan ketua Otoritas Rumah Sakit Anthony Wu Ting-Yuk mendesak mereka untuk mengesampingkan tuntutannya dan kembali bekerja. "Tugas utama kami adalah merawat pasien. Setiap orang memiliki pandangan berbeda tentang cara pemerintah memerangi wabah ini," kata Wu. "Tapi, saya sungguh berharap, kita semua mengesampingkannya dan melakukan tugas untuk pasien yang membutuhkan bantuan."
Adanya aksi mogok ini membuat beberapa peserta yang telibat meminta maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan. Tapi, mereka tetap bersikeras untuk melakukan aksi mogok demi kebaikan yang lebih besar.
(wk/nidy)