Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali mencatat ribuan babi yang mati disebabkan oleh virus flu babi Afrika. Lantas, apakah virus ini dapat menular dan berbahaya untuk manusia?
- Nidya Putri
- Rabu, 05 Februari 2020 - 10:19 WIB
WowKeren - Virus flu babi Afrika tengah menjangkit di beberapa wilayah di Indonesia. Sejak akhir Desember 2019, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali mencatat sudah ada 1.191 ekor babi yang mati.
Penyebab kematian ribuan babi itu disebabkan oleh virus. Hal ini disampaikan oleh Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, I Ketut Gede Nata Kesuma.
Virus sendiri menurut Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, wabah tersebut kini menjangkiti 16 kabupaten/kota di kawasan Sumatera Utara. Mulai Dairi, Humbang Hasundutan, Deli Serdang, Karo, Toba Samosir, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Samosir.
Kemudian Simalungun, Pakpak Bharat, Langkat, Tebing Tinggi, Pematang Siantar, dan Medan. Akibatnya, sekitar 27 ribu ternak babi di Sumatera Utara harus dimusnahkan. Sedangkan ribuan lainnya rentan terjangkit wabah tersebut.
Menurut data terbaru Dinas Kesehatan Hewan Medan, hingga saat ini sekitar 1.000 sampai 2.000 ternak babi diperkirakan mati setiap hari akibat wabah tersebut. Meski begitu, Departemen Kesehatan Filipina menyatakan jika virus ini tidak menimbulkan risiko untuk kesehatan manusia asal pengolahan daging babi diperhatikan.
Dilansir ABS CBN News, Menteri Kesehatan Filipina Francisco Duque III mengingatkan masyarakat untuk memasak daging babi dengan seksama untuk mencegah penyakit menular dari daging setengah matang. "Kami ingin menghilangkan ketakutan masyarakat dengan mengatakan bahwa, selama daging babi dibeli dari sumber yang dapat dipercaya dan dimasak dengan matang, daging babi aman untuk dimakan," katanya.
Selain itu, Depkes Filipina juga menyarankan peternak untuk tidak memberi makan produk daging babi mentah dan kurang matang kepada babi karena diduga merupakan sumber virus tersebut. Untuk penanganan babi sendiri disarankan untuk mencuci tangan ketika mereka pulang dari peternakan atau pasar, dan membersihkan sepatu atau ban kendaraan yang digunakan di peternakan babi.
(wk/nidy)