Meski demikian, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memprediksi ekonomi Papua bisa pulih tanpa bergantung Freeport namun hal itu membutuhkan waktu hingga sekitar 2023-2024.
- Zodiak Yanuarita
- Jumat, 07 Februari 2020 - 14:35 WIB
WowKeren - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto berbicara mengenai kondisi perekonomian Papua yang berkaitan dengan PT Freeport Indonesia. Airlangga mengakui jika Papua memang memiliki ketergantungan terhadap Freeport.
"Memang ada ketergantungan (dengan Freeport)," ucap Airlangga, Kamis (6/2). Meski demikian, bukan berarti Papua tidak bisa lepas dari ketergantungan itu. Airlangga memprediksi bahwa perekonomian Papua bisa lepas dari Freeport namun hal itu akan membutuhkan waktu hingga sekitar 3-4 tahun.
Airlangga mengungkap alasan lamanya waktu yang diperlukan lantaran tingkat ketergantungan Papua terhadap komoditas memang sangat tinggi. Sementara itu, bisnis tambang Freeport merupakan yang terbesar dan memberikan dampak signifikan terhadap ekonomi Papua.
Akibat ketergantungan yang cukup tinggi ini, tak heran penurunan produksi Freeport beberapa waktu terakhir membuat ekonomi Papua minus pada kuartal IV 2018 hingga kuartal IV 2019. Adapun menurunnya ekonomi Papua tak lepas dari menurunnya harga komoditas Freeport. "Iya (ekonomi Papua minus) salah satunya memang karena harga komoditas sedang turun dari Freeport, ada ketergantungan," kata Airlangga.
Oleh sebab itu untuk menyelesaikan masalah ini, Airlangga mengatakan bahwa pemerintah telah menyiapkan skenario khusus. Saat ini, pemerintah tengah mempercepat pembangunan Kawasan Industri di Teluk Bintuni. "Makanya kan pemerintah sedang dorong pengembangan kawasan Bintuni untuk industri, untuk metanol dan yang lain," jelas Airlangga.
Sementara itu, berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Papua minus 15,72 persen pada sepanjang 2019 kemarin. Adapun hal itu disebabkan adanya peralihan tambang terbuka (open pit) ke bawah tanah (underground) milik Freeport, yang mana hal ini menyebabkan produksi Freeport menurun.
"Pertumbuhan ekonomi Papua kuartal I sampai kuartal IV 2019 selalu kontraksi," kata Kepala BPS Suhariyanto. "Penyebab utamanya adalah Freeport yang produksinya menurun karena ada peralihan sistem tambang di sana."
(wk/zodi)