Seorang warga Wuhan, Tiongkok bernama William membagikan kisahnya saat sang ibu terinfeksi virus Corona. Ia pun mengatakan jika pemerintah sendiri masih kesulitan untuk memverifikasi virus berbahaya tersebut,
- Nidya Putri
- Rabu, 12 Februari 2020 - 16:51 WIB
WowKeren - Wabah virus corona hingga saat ini masih menjadi hal yang ditakuti oleh seluruh warga dunia, khususnya Tiongkok dimana virus ini berasal. Menurut salah satu penduduk kota Wuhan yang bernama Wiliam, pemerintah Tiongkok sendiri masih kesulitan untuk mendiagnosis pasien corona.
Dikutip dari South Morning China Post, William sempat merasa ketar-ketir lantaran ibunya yang berusia 57 tahun menunjukkan gejala pilek, demam tinggi dan kesulitan bernapas. Namun, pihak rumah sakit awalnya tidak merawat sang ibu sebagai pasien terinfeksi corona.
Jadwal tes pada tanggal 1 Februari dibatalkan karena kekurangan alat tes. Dua hari kemudian, ibunya akhirnya di tes untuk memeriksa keberadaan virus corona di rumah sakit lain.
Awalnya, William agak lega setelah hasil tes menunjukkan bahwa ibunya negatif virus corona. Kendati demikian, kondisi ibunya memburuk.
Ternyata saat di tes untuk kedua kalinya, ibunya dinyatakan positif virus corona. William juga harus menunggu beberapa hari untuk mendapatkan kamar di rumah sakit.
"Sudah beberapa hari terbuang sia-sia," ujar William. "Pertama, tidak ada cukup alat tes, kemudian ada tes palsu. Kondisinya belum membaik pada hari Senin."
Meski sang ibu sudah dirawat di rumah sakit namun William tak bisa tenang karena sang nenek yang berusia 80 tahun dan lumpuh juga mengalami gejala yang sama dengan ibunya. Bahkan sang nenek masih belum melakukan tes virus corona, William sendiri telah memanggil ambulans namun tak kunjung datang. "Ada banyak kasus seperti nenek saya dan mereka tidak termasuk dalam angka resmi," katanya.
Diketahui, Tiongkok masih kekurangan alat uji dan akurasi teknis sehingga memperburuk situasi. Minimnya akurasi menimbulkan dugaan adanya infeksi corona yang jauh lebih banyak daripada yang ditunjukkan angka resmi.
Karena itu, pihak berwenang Tiongkok mengeluarkan persetujuan dalam waktu dua minggu untuk tujuh peralatan yang menggunakan metode asam nukleat untuk menguji keberadaan virus. Di Hubei sendiri alat uji coba asam nukleat tidak tersedia sampai 16 Januari.
Karena itu, sampel yang berasal dari Hubei harus dikirim ke Beijing untuk pengujian dalam proses yang memakan waktu setidaknya tiga hari. Karena itu, perusahaan pertama dari tujuh perusahaan yang mendorong peluncuran alat pengujian, BGI Group yang berbasis di Shenzhen mengatakan jika pihaknya tengah mengembangkan produk dalam waktu kurang dari dua minggu dan memperoleh persetujuan peraturan 12 hari kemudian.
(wk/nidy)