2 Dari 3 Siswa SMP yang Hanyut Saat Susur Sungai Ditemukan Meninggal, Korban Tewas Jadi 9 Orang
Nasional
Tragedi Susur Sungai Sleman

Tim SAR gabungan telah berhasil menemukan 2 siswa SMPN 1 Turi yang hanyut terseret arus sungai pada Sabtu (22/2) hari ini. Kini tim SAR gabungan masih mencari 1 korban yang belum ditemukan.

WowKeren - Ratusan siswa SMPN 1 Turi, Sleman, Yogyakarta mengalami tragedi mematikan kala mengikuti kegiatan susur sungai pada Jumat (21/2) kemarin. Sejumlah siswa pun tewas terseret arus sungai dalam tragedi ini.

Tim SAR gabungan sendiri akhirnya telah berhasil menemukan 2 dari 3 siswa yang sempat hilang terseret arus. Sayangnya, kedua siswa tersebut ditemukan dalam kondisi tak bernyawa. Dengan demikian, total korban tewas dalam tragedi ini telah mencapai 9 orang.

Korban pertama diketahui berjenis kelamin perempuan dan ditemukan di daerah DAM Lengkong. "Pukul 10.15 WIB ditemukan satu korban," tutur Koordinator Humas Basarnas Yogyakarta, Pipit Eriyanto, pada Sabtu (22/2).

Setelah itu, tim SAR gabungan kembali menemukan seorang korban lagi pada pukul 10.35 WIB. Korban kedua ini juga diketahui berjenis kelamin perempuan.

"Pukul 10.35 WIB ditemukan satu korban di DAM Polowidi," jelas Pipit. "Jadi total yang sudah ditemukan sembilan orang, dan satu masih dalam pencarian."


Menurut Kabid Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Makwan, korban kini telah dibawa ke Puskemas Turi. "Menuju Puskesmas Turi untuk dilakukan identifikasi," terang Pipit.

Sementara itu, tim SAR gabungan hingga saat ini terus melakukan proses pencarian terhadap seorang korban yang masih belum ditemukan. Pencarian ini dilakukan dengan menyusuri sungai. "Kira-kira tim pencarian jaraknya sekitar 6-7 km dari titik awal kejadian," pungkas Makwan.

Di sisi lain, kegiatan susur sungai ini rupanya merupakan agenda rutin dari kegiatan pramuka. Meski demikian, Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman menduga pelaksanaan susur sungai yang berujung pada tragedi maut ini dilakukan tanpa izin dari sekolah.

Kabid Pembinaan SMP Disdik Sleman, Dwi Warni Yuli Astuti, menyebut bahwa agenda susur sungai semestinya diadakan ketika musim kemarau. Sedangkan pada musim hujan sekolah diimbau untuk melakukan kegiatan pramuka yang jauh dari wilayah perairan.

"Saya tanya sudah ada SOP, katanya secara tertulis tidak ada," ujar Dwi Warni, merujuk pada percakapannya dengan seorang pembina pramuka di SMPN 1 Turi, Yopi. "Saya tanya sudah seizin kepsek, katanya tidak."

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts