Susur Sungai Berujung Maut Bikin 6 Siswi di Sleman Alami Gangguan Psikologis
Nasional
Tragedi Susur Sungai Sleman

Ratusan siswa SMPN 1 Turi, Sleman harus berhadapan dengan derasnya arus Sungai Sempor pada Jumat (21/2). Belakangan insiden itu diketahui menyebabkan 10 siswa meninggal dunia.

WowKeren - Insiden susur sungai berujung petaka yang dialami oleh 249 siswa SMPN 1 Turi, Sleman, DI Yogyakarta pada Jumat (21/2) pekan lalu masih hangat dibicarakan. Tak hanya menjadi duka warga setempat, kasus ini pun turut dibahas publik nasional.

Tercatat ada 10 siswa yang meninggal dunia akibat insiden di Sungai Sempor tersebut. Tak hanya itu, puluhan lainnya pun dilaporkan luka-luka. Namun dampak yang diterima korban tak hanya dari segi luka fisik, tetapi juga beban psikologis.


Hal ini terungkap pasca Ikatan Psikologi Klinis (IPK) Indonesia wilayah DIY menyambangi sekolah dan menemui para korban. Pasca melakukan pemeriksaan, IPK menyatakan sebanyak 6 siswi mengalami gangguan psikologis pasca tragedi.

"Ada enam siswa mengalami gejala-gejala psikologis dan sudah ditangani tim medis dan psikolog," kata Ketua IPK Indonesia Wilayah DIY, Siti Urbayatun di SMPN 1 Turi, Senin (24/2). "Agar siswa kembali pulih seperti sedia kala."

Menurut Siti, keenam siswi ini mengalami gangguan psikologis seperti munculnya rasa cemas, sedih, dan marah. Selain itu, ada juga siswa yang menunjukkan gejala perilaku seperti berteriak dan histeris. Kendati demikian, Siti menegaskan gangguan yang dialami merupakan reaksi wajar dari penyintas suatu tragedi.

"Gejala atau tanda-tanda mengalami masalah psikologis dilihat dari psikis ada rasa cemas, sedih dan marah. Ada gejala sifatnya fisik, sifatnya mual. Gejala perilaku seperti teriak dan histeris, makanya kita kerja sama dengan tim medis," jelasnya, dilansir dari Detik News.

"Namun ini belum dikatakan gangguan, melainkan reaksi wajar saat orang-orang mengalami masalah," imbuhnya. "Total ada enam orang adalah putri semua."

Siti menjanjikan pihaknya akan terus melakukan penanganan terhadap para siswi penyintas tersebut. Hal ini dilakukan dengan pemantauan ke rumah atau home visit selama sepekan.

"Akan stand by selama satu minggu ke depan, baik dari relawan dan psikolog. Kami juga akan memonitor kondisi psikologis siswa dan keluarga dan home visit juga akan dilakukan," pungkasnya.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts