64% Pasien Corona Indonesia Tertular di Luar Negeri, Pemerintah Buka-Bukaan Soal Penjagaan Bandara
Nasional

Juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, buka suara soal sistem penjagaan di bandara usai pasien corona imported case di Indonesia meningkat.

WowKeren - Jumlah pasien yang positif terjangkit virus corona (Covid-19) di Indonesia telah melonjak menjadi 34 orang hingga Rabu (11/3) kemarin. Puluhan pasien ini lantas dibagi dalam 3 pola berbeda sesuai cara mereka tertular virus corona.

Pola yang pertama adalah klaster Jakarta. Pola ini merupaka kategori untuk para pasien yang tertular pasien kasus 01. Diketahui, pasien kasus 01 sendiri merupakan seorang wanita berusia 31 tahun yang tertular warga negara Jepang yang tinggal di Malaysia. Kasus 01 ini memunculkan 11 kasus baru yang dikategorikan dalam klaster Jakarta.

Lalu pola yang kedua adalah local transmission yang masih belum diketahui darimana sumber kontak virusnya. Sejauh ini, pasien yang dimasukkan dalam kategori local transmission baru 1 orang, yakni kasus 27.

Pola terakhir sekaligus yang paling banyak adalah imported case. Pasien dalam kategori ini tertular virus corona di luar negeri dan masuk ke Indonesia dalam keadaan sakit. Dari 34 kasus, 22 di antaranya adalah imported case. Dengan kata lain, 64,7% pasien corona di Indonesia tertular di luar negeri.


Menanggapi banyaknya jumlah pasien corona imported case, juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, pun buka suara. Menurut Yuri, tidak ada masalah dalam penjagaan di bandara karena sistem tersebut hanya bisa mendeteksi orang-orang dalam kondisi panas.

"Lho, kalau orang masuk bandara enggak panas gimana. Kalau dia enggak panas, ya, enggak bisa ke-detect," ungkap Yuri dilansir detikcom pada Kamis (12/3). "Baru ketahuan setelah beberapa hari di Indonesia baru ketahuan."

Oleh sebab itu, tutur Yuri, pemerintah membuka sistem pemantauan supaya masyarakat yang mengalami gejela aneh bisa diperiksa. Pihak dokter sendiri juga disarankan untuk memperhatikan gejala yang ada dengan seksama supaya bisa langsung memberikan early warning system apabila pasien benar-benar merujuk pada virus corona.

"Makanya kan kemudian dikasih Health Alert Card (HAC). Nah semua itu dari situ, kita kasih tahu kalau sakit segera ke rumah sakit dan tunjukkan kartu ini," pungkas Yuri. "Maka siapapun dokter yang merawat dia di fasilitas yang dia terima langsung mengaktifkan early warning system, bahwa ada pasien ODP (orang dalam pemantauan) yang sakit kemudian jadi PDP (pasien dalam pengawasan)."

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait