Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia hingga saat ini telah mencapai angka 17.820. Kemenkes mengatakan penyebaran yang cepat ini disebabkan karena iklim tropis yang dimiliki Indonesia.
- Nidya Putri
- Kamis, 12 Maret 2020 - 13:51 WIB
WowKeren - Penyakit demam berdarah dengue (DBD) tengah mewabah di Indonesia. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi mengatakan bahwa penularan DBD ini terjadi secara cepat.
"DBD itu penyakit yang berpotensi menjadi wabah dan kejadian luar biasa (KLB) dikarenakan kecepatan penularannya," ujar Siti di Kantor Kemenkes, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (11/3). "Jadi mengapa tiba-tiba (jumlah) kasus tiba-tiba melonjak jadi tinggi sebab ini karena proses penularan tetap terjadi."
Adapun dua kondisi pemicu penularan DBD, kata Siti adalah iklim tropis Indonesia dan keberadaan nyamuk Aedes aegypti. "Individu butuh waktu 5-7 hari setelah tergigit nyamuk Aedes aegypti, lalu baru muncul gejala klinis DBD, tetapi bisa jadi orang tidak merasakan gejala klinis, padahal dia sudah positif tertular DBS," jelasnya. "Kalau daerah yang nyamukmya banyak, ya (risiko) penularan cepat terjadi."
Adapun langkah pemerintah untuk menangani penularan DBD akan melibatkan dinas kesehatan setempat. "Kalau secara nasional kami sudah ingatkan daerah sebelum masuki masa DBD, lalu kita juga memastikan dinas kesehatan memiliki logistiknya mencukupi mulai dari ketersediaan larvasida, insektisida, persiapan RS, termasuk cairan infus dan juga jarum infus," tuturnya.
"Kemudian, pada saat terjadi peningkatan kasus besar, Kemenkes akan turun untuk bentuk posko kesehatan dan mencari cara mengatasi agar kasus tak bertambah besar," sambungnya.
Sebelumnya, Kemenkes telah mencatat ada 17.820 kasus penularan DBD di seluruh Indonesia. Dari data tersebut, Kemenkes mencatat 104 kasus kematian akibat penularan DBD.
Mayoritas kematian dalam kasus DBD terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). "Saat ini kasus penularan kita di angka 17.820. Angka kematian (akibat DBD) tercatat 104 kejadian," kata Siti. "Untuk angka kematian di NTT tertinggi, yakni dengan 32 orang meninggal."
Adapun empat provinsi lain dengan kasus kematian DBD tertinggi adalah Jawa Barat (15 kematian), Jawa Timur (13 kematian), Lampung (11 kematian) dan Jawa Tengah (4 kematian). Bila dibandingkan dengan tahun 2019, jumlah kasus kematian saat ini masih tercatat lebih rendah.
(wk/nidy)