Mendikbud Nadiem Makarim mengeluarkan Program Belajar dari Rumah yang disiarkan melalui televisi yang mulai tayang hari ini (13/4) di TVRI. Sayangnya, program ini justru membuat anggota Komisi X DPR RI pesimis.
- Nidya Putri
- Senin, 13 April 2020 - 15:24 WIB
WowKeren - Pandemi virus corona membuat Pemerintah Indonesia meliburkan aktivitas belajar mengajar yang biasa diadakan di sekolah. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim pun meminta pelajar untuk belajar dari rumah demi memutus rantai penyebaran virus corona.
Jika sebelumnya proses belajar mengajar di rumah terhubung dengan internet, kalo ini Nadiem mengeluarkan Program Belajar dari Rumah di televisi. Program yang tayang di TVRI mulai hari ini (13/4) tersebut diharapkan bisa membantu seluruh pelajar di Indonesia untuk melanjutkan proses belajar dari rumah.
Anggota Komisi X DPR Zainuddin Maliki pun mengapresiasi upaya Nadiem tersebut. Sayangnya, ia pesimis jika program tersebut bakal sepenuhnya efektif.
"Belajar daring di daerah yang kaya jaringan internet saja belum bisa menjamin pembelajaran berlangsung efektif," kata Zainuddin dalam keterangan tertulisnya, Minggu (12/4). "Bisa dibayangkan seperti apa efektivitas pembelajaran melalui televisi."
Menurutnya, Program belajar bersama TVRI belum sepenuhnya bisa dijadikan solusi. Justru program ini memiliki hambatan karena bersifat satu arah.
Mantan rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya itu menilai mendikbud tetap harus memperhatikan jumlah siswa yang tidak bisa mengakses televisi dan internet. Ia kemudian mencontohkan di Banten yang merupakan provinsi berdekatan dengan ibu kota belum memiliki stasiun televisi hingga hari ini.
"Mendikbud masih harus mencari cara lagi untuk melayani pembelajaran siswa yang televisi pun tidak bisa diakses," ujarnya. Ia pun menambahkan bahwa masih ada cara yang bisa dilakukan mendikbud untuk melayani siswa yang tidak memiliki jaringan televisi dan apalagi internet.
Menurutnya, mendikbud bisa menyusun semacam gugus tugas. "Mereka inilah yang diminta hadir di masyarakat yang tak bisa akses televisi dan apalagi internet," tuturnya.
Gugus tugas ini bisa terdiri dari para guru dimana mereka diminta datang ke daerah tertentu, dengan jadwal yang telah ditentukan. Lalu mereka akan menyampaikan bahan pembelajaran yang telah dirancang. "Sebaiknya bukan content based, melainkan lebih tepat bentuknya belajar berbasis problem atau project yang bisa dilaksanakan siswa selama minggu itu," jelasnya.
Kemudian, gugus tugas itu pula yang nantinya meminta tagihan hasil belajar sekaligus memberikan bahan pembelajaran hari-hari berikutnya. Menurutnya hal tersebut harus tetap menggunakan protokol kesehatan yang ketat, antara lain guru harus dilengkapi APD yang lengkap, termasuk pelindung badan.
(wk/nidy)