Banjir yang terjadi kali ini lebih parah dari sebelumnya. Pasalnya, tanggul laut jebol sehingga air menerjang dan menyebabkan sejumlah area rumah sakit tergenang.
- Zodiak Yanuarita
- Jumat, 24 April 2020 - 14:39 WIB
WowKeren - Banjir yang terjadi di wilayah Papua sejak Kamis (23/4) malam menyebabkan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jayapura tergenang banjir. Informasi tersebut dikemukakan oleh Kepala Bagian Biro Humas dan Protokol Pemerintah Provinsi Papua, Gilbert Yakwar.
"Infonya begitu (banjir)," kata Gilbert dilansir CNN Indonesia, Jumat (24/4). "Kejadian sejak malam karena hujan lebat."
Gilbert mengungkapkan jika kondisi banjir kali ini lebih parah dari sebelumnya. Pasalnya, tanggul laut jebol sehingga air menerjang dan menyebabkan rumah sakit tergenang. Meski demikian, pihak rumah sakit masih bisa memberikan layanan untuk para pasien.
Sebab, tidak semua area rumah sakit banjir. RSUD ini merupakan salah satu rumah sakit rujukan COVID-19 di wilayah tersebut. "Iya RSUD rumah sakit rujukan COVID 19. Kalau tidak salah (tidak semua area) banjir. Penanganan pasien masih bisa," ujar Gilbert.
Fenomena banjir kali ini, dikatakan Gilbert belum pernah terjadi sebelumnya. Menurutnya, meskipun hujan lebat tidak akan sampai membuat rumah sakit tergenang banjir. Namun karena disertai tanggul jebol maka terjadilah hal itu.
"Karena talut (tanggul laut) jebol, mengakibatkan arus air tidak pada salurannya," lanjut Gilbert menjelaskan. "Makanya banjir masuk ke dalam rumah sakit, tapi hanya di ruangan-ruangan tertentu."
Sementara itu, Wali Kota Jayapura, Benhur Tomi Mano, belum berencana untuk mengajukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk wilayahnya. Alasannya, ia tak ingin membuat warganya panik.
Sebab ketika PSBB diberlakukan, sederet peraturan memang harus diterapkan demi kelancaran PSBB itu sendiri. Menurutnya, penduduk Jayapura lebih padat sehingga dikhawatirkan jika PSBB dilakukan justru akan memunculkan kepanikan.
Namun meskipun Jayapura tidak melakukan PSBB namun pemerintah daerah telah telah melaksanakan protokol yang mirip PSBB. Salah satunya membatasi aktivitas warga di jam-jam tertentu.
"Kami tetap melakukan pendekatan humanis dan tidak melakukan PSBB," kata Benhur, Rabu (22/4). "Intinya itu kan warga tak panik, takut dengan segala aturan yang diterapkan pemerintah."
(wk/zodi)