Musim kemarau yang sudah di depan mata membuat sejumlah daerah mulai mempertimbangkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan, seperti Sumsel yang mengaku sudah mendapati ribuan titik api.
- Elvariza Opita
- Selasa, 28 April 2020 - 16:24 WIB
WowKeren - Indonesia sedang dibuat pusing dengan wabah virus Corona yang sudah menginfeksi lebih dari 9 ribu orang. Namun masyarakat tampaknya tak boleh lupa dengan potensi kebakaran hutan dan lahan yang turut mengancam Indonesia.
Hal ini seperti diungkap oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan pada hari ini (28/4). Tak main-main, Pemprov Sumsel mengaku sudah mendapati penyebaran ribuan titik panas atau hotspot, alias titik-titik api yang menjadi bakal karhutla, sepanjang 4 bulan belakangan.
Total ada 1.113 titik panas yang sudah teramati oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel. Daerah Ogan Komering Ilir merupakan yang paling banyak dengan 266 titik.
"Titik hotspot di OKI paling banyak, dengan 266 titik," ujar Kepala Bidang Penanganan Kedaruratan BPBD Sumsel, dilansir dari Detik News. "Disusul Muara Enim dengan 204 titik dan Musi Banyuasin dengan 192 titik."
Ansori mengatakan pantauan hotspot saat ini dilakukan dengan menggunakan 5 satelit, yakni Aqua, Landsat-8, NOAA, SNPP, dan Terra. "Dengan begitu pendeteksian hotspot lebih akurat. Di mana setiap satelit juga memiliki keunggulan masing-masing," jelasnya.
Kendati demikian pihak BPBD masih bisa "bernapas" karena kondisi cuaca saat ini tak memungkinkan api untuk menyebar. Titik-titik api itu memang menjamur, namun curah hujan yang tinggi serta lahan gambut yang masih tergenang air membuatnya tak bisa menyebar secepat saat musim kering atau kemarau.
"Kalau berdasarkan prediksi analis BMKG, kemarau baru jatuh pada dasarian ketiga bulan Mei. Jadi sampai sekarang lahan ini masih tetap basah terendam air," pungkasnya.
Masalah karhutla tentu tidak bisa dipandang remeh. Sebab masih segar diingatan bagaimana bencana kebakaran yang sejatinya sudah rutin terjadi tiap tahun ini membuat Indonesia sampai menerima protes dari sejumlah negara tetangga.
Selain itu, Indonesia tetap harus waspada karena karhutla yang terjadi selama ini di berbagai belahan dunia tak bisa dipandang remeh. Seperti di Australia yang bahkan sampai membuat para pakar setempat meyakini populasi koala akan berkurang drastis.
(wk/elva)