Sempat 'dirundung badai', hari ini (30/4) nilai tukar dolar terhadap rupiah mencapai level Rp 15.035, jauh lebih rendah ketimbang kurs beberapa waktu belakangan.
- Elvariza Opita
- Kamis, 30 April 2020 - 13:21 WIB
WowKeren - Nilai tukar rupiah (IDR) terhadap dolar Amerika Serikat (USD) sempat dibuat babak belur di tengah pandemi virus Corona. Bahkan Bank Indonesia sudah pernah menyiapkan skenario andai nilai tukar rupiah mencapai level Rp 20 ribu per USD 1.
Namun kekhawatiran itu tampaknya tak perlu diperpanjang karena saat ini nilai tukar rupiah terhadap USD bergerak ke arah yang lebih baik. Bahkan hari ini (30/4) kurs rupiah mendekat ke level Rp 15.035 per USD 1, sebuah angka yang luar biasa mengingat Indonesia pernah mencapai level Rp 17 ribu.
Dikutip dari Kontan, rupiah spot menguat 1,70% pada Kamis pukul 09.40 WIB tadi. Praktis hal ini menyebabkan rupiah menjadi mata uang paling perkasa di Asia. Hanya yen Jepang dan dolar Hong Kong yang mengalami pelemahan.
Hal ini sejalan dengan bursa Asia yang menguat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga menguat sampai 1 persen hari ini, begitu pula Wall Street yang melesat pada akhir perdagangan semalam.
Namun menjadi pertanyaan besar, mengapa kurs rupiah bisa menguat sedemikian rupa di tengah pandemi COVID-19. Apalagi bayang-bayang resesi dan keruntuhan ekonomi global terus menghantui di tengah krisis kesehatan yang terjadi.
Belakangan terungkap satu alasan tak terduga, seperti dikutip dari Bloomberg. Penguatan ini disebabkan karena getolnya usaha pemerintah menutup defisit anggaran tahun ini, salah satunya dengan menerbitkan utang dalam negeri.
Tercatat utang sebesar Rp 137 triliun berhasil dijual pada pekan ini. Selain itu ada juga aset senilai Rp 16,6 triliun yang dilelang pada Selasa (28/4) kemarin. Sedangkan sisanya berupa private placement ke bank lokal sebesar Rp 62,6 triliun serta diikuti lelang tambahan mencapai Rp 11,4 triliun pada hari berikutnya.
Namun lonjakan aset utang ini ternyata berkaitan dengan satu hal tak terduga. Yakni berkaitan dengan keputusan pemerintah untuk meningkatkan defisit fiskal tahunan menjadi 5,07 persen produk domestik bruto (PDB / GDP).
Di sisi lain, sudah dua hari ini kurs rupiah terus mengalami penguatan dalam perdagangan. Hal ini disebabkan karena minat investor untuk masuk ke instrumen berisiko kembali meningkat, menyebabkan bursa saham emerging market ikut meningkat, termasuk Indonesia.
(wk/elva)