Harga bawang merah terus mengalami lonjakan yang seolah tak terbendung hingga mengalahkan bahan-bahan pangan lainnya, ternyata isu ini menjadi penyebabnya.
- Ruth Meliana
- Jumat, 08 Mei 2020 - 12:28 WIB
WowKeren - Harga kebutuhan pokok berupa bahan-bahan pangan cenderung tidak stabil di tengah pandemi virus corona (COVID-19). Namun, salah satu bahan pangan yang cukup mengalami perubahan harga yang signifikan adalah bawang merah.
Dilansir CNBCIndonesia, harga bawah merah terus melonjak tajam semakin tak terbendung. Hingga Rabu (6/5), harga bawah merah telah melonjak tajam menjadi Rp50.050 per kilogram di pasar tradisional seluruh Provinsi Tanah Air.
Harga bawang merah tersebut telah naik hampir 9,3 persen sejak 29 April lalu. Namun jika dihitung sejak satu bulan terakhir, rupanya harga bawah merah telah melonjak mencapai 19,2 persen. Lantas apa penyebabnya?
Rupanya isu seputar menipisnya pasokan di pasaran hingga kelangkaan bibit bawang merah menjadi pemicu kenaikan harga komoditas tersebut. Apalagi, banjir pada Februari lalu di sejumlah wilayah Indonesia telah menyebabkan gagal panen bawang merah.
Kenaikan tersebut berbanding terbalik dengan harga bahan-bahan pangan lainnya yang justru mengalami penurunan. Diantaranya adalah beras, bawang putih, cabai rawit, cabai merah hingga minyak goreng yang harganya cenderung menurun dalam sepekan terakhir.
Namun selain bawang merah, ada satu bahan pangan yang juga mengalami kenaikan yaitu daging ayam ras segar. Pada 29 April lalu satu kilogram daging ayam ras segar dibanderol Rp28.500. Kini, harga daging ayam ras segar berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional telah mencapai Rp29.150 per kilogram.
Ada beberapa kemungkinan yang dapat menjelaskan perubahan harga-harga pangan tersebut. Salah satunya adalah hal tersebut merupakan upaya pemerintah membantu rakyat dengan menurunkan harga dan memberikan stok bahan pangan.
Meski demikian, telah muncul laporan bahwa stok beberapa komoditas pangan Tanah Air mengalami defisit. Seperti stok beras ternyata defisit di 7 provinsi.
Lalu stok jagung terjadi defisit di 11 provinsi, stok cabai besar defisit di 23 provinsi, stok cabai rawit defisit di 19 provinsi. Stok bawang merah diperkirakan juga defisit di 1 provinsi dan stok telur ayam defisit di 22 provinsi.
Kemudian stok untuk gula pasir juga diperkirakan defisit di 30 provinsi. Selanjutnya stok bawang putih juga diperkirakan defisit di 31 provinsi. Hanya stok untuk minyak goreng yang diperkirakan cukup untuk 34 provinsi.
(wk/lian)