Wabah corona membuat lonjakan jumlah pengangguran di Amerika Serikat. Salah satunya seperti yang dialami oleh warga negara Indonesia yang memenangkan lotere 'kartu hijau'.
- Nidya Putri
- Jumat, 15 Mei 2020 - 13:47 WIB
WowKeren - Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat (AS) pekan lalu (8/5) menyatakan terjadi lonjakan tingkat pengangguran sekitar 14,7 persen pada bulan April. Sekitar satu dari enam pekerja di antara 164,6 juta orang dalam angkatan kerja AS sekarang ini menganggur.
Namun, hal itu tak hanya dirasakan oleh warga asli AS saja. Seorang diaspora Indonesia juga mengalami hal serupa.
Memiliki ‘kartu hijau’ atau ijin tinggal sebagai penduduk tetap AS, tampaknya tidak menjamin kemudahan mendapat pekerjaan idaman, apalagi di tengah pandemi virus corona. Hal ini dialamo oleh Erick Alamsjah, seorang warga Indonesia pemenang lotere kartu hijau.
Pada Januari, dia dan isteri serta kedua anak mereka, pindah dari Jakarta ke negara bagian Maryland untuk menjajaki kehidupan yang baru. Sambil mencari pekerjaan tetap, laki-laki yang 8 tahun belakangan bekerja dalam bidang IT ini, bekerja paruh waktu di sebuah kedai kopi di Washington DC.
Namun, baru beberapa minggu di sana, kedai kopi tersebut tutup karena terdampak pandemi virus corona. Sejak AS memberlakukan keadaan darurat dan aturan karantina wilayah, banyak perusahaan yang mengurangi atau menghentikan operasi dan juga perekrutan.
Dikutip dari VOA, Erick mengaku sulit mencari pekerjaan tetap sesuai keahliannya saat ini. "Dari semua aplikasi yang saya masukin, baik ritel ataupun pekerjaan yang lain di bidang IT, yang manggil itu adalah yang esensial, kaya model apotek, grocery, toko bahan bangunan," ungkapnya. "Mungkin memang agak sedikit di-pending kali ya untuk bisa dapat pekerjaan yang lain."
Erick sendiri saat ini bekerja sebagai kasir di sebuah peritel besar yang menjual bahan-bahan bangunan. Sementara istrinya, Sari, menjadi ibu rumah tangga sambil membantu kedua anaknya menjalani pembelajaran jarak jauh.
Kesulitan mencari pekerjaan tetap juga dialami Vinia Agnessia, yang datang dari Sumatera Barat ke negara bagian New York pada November lalu, setelah memenangkan lotere kartu hijau. Mahasiswi kedokteran gigi yang sedang cuti dari kampusnya di Padang ini, sempat bekerja paruh waktu sebagai resepsionis sebuah klinik dokter gigi.
Ia kemudian beralih sebagai pelayan di sebuah restoran Jepang di New York City. Pekerjaannya terhenti pada Februari karena restoran itu menjalani renovasi, dan akhirnya tutup setelah New York memberlakukan aturan karantina wilayah.
Agnes, yang hidup seorang diri di pusat pandemi AS dan salah satu kota termahal di dunia, akhirnya menganggur. "Selain khawatir soal corona, orangtua juga cemaskan finansial ya, saya kan disini sudah ngga kerja lagi, gimana kehidupan sehari-hari, gitu terus saya bilang karena saya di sini legal, jadi ada sedikit bantuan dari dari pemerintah sini lah gitu," ujarnya.
Bantuan yang dimaksud adalah stimulus dari pemerintah federal sebesar USD 1.200. Selain itu, ia juga mendapat tunjangan pangangguran akibat pandemi dari pemerintah negara bagian New York sebesar USD 600 per minggu dipotong pajak. Tunjangan pengangguran tersebut diberikan kepada mereka yang berhak hingga 31 Juli mendatang.
(wk/nidy)