Orang-Orang Berprofesi Ini Terbukti Lebih Depresi Hadapi Corona Dibanding Tenaga Medis
Nasional

Hal ini tampak dari hasil survei persepsi diri yang dilakukan oleh Center for Economic Development Study (CEDS) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Padjajaran.

WowKeren - Center for Economic Development Study (CEDS) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Padjajaran melakukan survei persepsi diri terhadap beberapa profesi selama pandemi virus corona (COVID-19). Hasilnya, orang- orang yang berprofesi sebagai wartawan lebih banyak yang mengalami gejala depresi dibanding tenaga kesehatan di tengah pandemi corona.

"Terdapat 45,92 persen wartawan yang memiliki gejala depresi," demikian kutipan hasil survei tersebut, dilansir CNN Indonesia pada Sabtu (16/5). "Jauh lebih tinggi dari tenaga kesehatan (28 persen)."

Survei tersebut dilakukan secara online pada periode 2 hingga 10 April 2020. Sebanyak 98 orang wartawan dari berbagai daerah di Indonesia menjadi responden survei tersebut.

Berdasarkan hasil survei tersebut, wartawan yang masih keluar rumah untuk meliput berita di tengah pandemi corona lebih banyak mengalami gejala depresi, tepatnya sebesar 26,53 persen. Selain itu, mereka berpeluang 1,65 kali lebih besar mengalami gejala depresi dibanding wartawan yang tidak keluar rumah untuk meliput berita.

Menurut pembagian jenis kelamin, wartawan laki-laki lebih banyak mengalami gejala depresi, tepatnya sebanyak 47,3 persen. Sedangkan wartawan perempuan yang mengalami gejala depresi mencapai 43,9 persen.


Sedangkan berdasarkan pembagian kelompok usia, wartawan berusia 21-30 tahun lebih banyak mengalami gejala depresi (52,8 persen). Kemudian untuk wartawan berusia 31-40 tahun, 44,19 persen mengalami gejala depresi. Dan untuk kelompok 41-50 tahun, 25 persen mengalami gejala depresi.

Jika dikategorikan dari bentuk media tempat kerjanya, wartawan media online, televisi, dan radio lebih banyak mengalami gejala depresi jika dibanding dengan wartawan media cetak harian dan cetak mingguan. Perbandingannya adalah 58,70 persen wartawan media online, 60 persen wartawan radio, dan 45 persen wartawan TV memiliki gejala depresi.

Sedangkan wartawan media cetak harian hanya 21,74 persen yang mengalami gejala depresi. Wartawan media cetak mingguan bahkan tidak mengalami gejala depresi sama sekali.

Gejala depresi yang dialami antara lain adalah merasa terganggu dengan hal yang biasa dan memusatkan pikiran. Kemudian mereka juga merasa tertekan, lebih berat mengerjakan tugas, ketakutan, tidur gelisah, hingga merasa sendirian.

Tim peneliti survei lantas merekomendasikan sejumlah hal terkait hasil ini. Di antaranya adalah layanan konseling kesehatan jiwa secara aktif, psikoterapi, hingga dukungan dari pemerintah berupa insentif, rewards, dan asuransi. Institusi tempat kerja media juga diharapkan memberi dukungan berupa pembatasan jam kerja, komunikasi, monitoring dampak terus menerus dan sistematis, dan menyediakan asuransi risiko.

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait