Pengakuan Emosional Tenaga Medis Harus Rawat Rekannya Yang Kena Corona
Getty Images
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Pengakuan emosional seorang tenaga medis RSPI Sulianti Saroso yang harus merawat rekan sejawat sendiri lantaran terinfeksi virus corona (COVID-19). Bagaimana kesaksiannya?

WowKeren - Pandemi virus corona (COVID-19) saat ini tengah menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat dunia. Bagaimana tidak, hampir 5,5 juta orang di dunia telah terinfeksi virus corona. Virus asal Wuhan, Tiongkok ini juga telah membunuh hampir 350 ribu orang.

Berbagai kisah seputar virus corona pun terus mengalir. Salah satunya dari para petugas medis yang berada di garda depan dalam melawan pandemi COVID-19.


Seorang perawat bernama Nurdiyansyah (30) lantas menceritakan pengalaman pahitnya dalam menangani pasien virus corona. Sejauh ini, ia ikut terjun menanggulangi virus corona dengan merawat pasien COVID-19 di Rumah Sakit Pusat Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso.

Secara emosional, Nurdiyansyah mengaku merawat pasien virus corona tidaklah mudah. Situasi tersebut semakin berat setelah ia harus merawat rekan sejawatnya sendiri dari kalangan medis yang menderita COVID-19.

Nurdiyansyah mengungkapkan saat merawat rekannya sendiri, ia benar-benar berusaha untuk tegar. Pasalnya, ia mengaku tidak tega saat harus merawat teman sendiri yang berjuang melawan virus mematikan ini dengan sejumlah protokol kesehatan yang ketat.

”Kalau teman jadi pasien pasti pengaruh ke psikologis,” ungkap Nurdiyansyah seperti dilansir dari Kumparan, Minggu (24/5). “Kita perawat manusia juga punya perasaan, tapi kami berusaha tetap profesional.”

Sebelumnya, seorang perawat senior di RSPI dilaporkan positif terinfeksi COVID-19. Perawat tersebut lantas menjalani perawatan dan isolasi di rumah sakit tempatnya bekerja selama beberapa pekan.

Pada momen tersebut, Nurdiyansyah mengaku begitu kesulitan untuk tetap menunjukkan wajah tegarnya. Tiap kali akan masuk ke ruangan perawatan tenaga medis yang menderita COVID-19, Nurdiyansyah mengaku mencoba berusaha menguasai diri.

Menurutnya, tugas perawat tidak hanya fokus pada kesehatan fisik pasien saja, namun juga pada psikologis mereka. Ia menekankan pentingnya memberikan semangat dan dorongan kepada pasien virus corona agar bisa bertahan dan sembuh.

Selain itu, sangat penting bagi pasien agar tidak menangkap ekspresi cemas dari perawat. “Sebisa mungkin ceria di depan pasien itu. Jadi sebelum masuk, kita ubah mimik dulu,” papar Nurdiyansyah.

Bagi Nurdiyansyah, kadang hal itu berat dilakukan. Terlebih, bila ia mengetahui kondisi rekannya memburuk. Para tenaga kesehatan hanya bisa saling menguatkan satu sama lain. Selebihnya, mereka berusaha bekerja ikhlas jika sampai nyawa rekan mereka sudah tidak tertolong lagi.

Nurdiyansyah mengatakan sebagai perawat yang menangani COVID-19, ia selalu dihadapkan dengan dua pilihan terkait nasib rekan sejawatnya yang sakit. “Pilihannya kan cuma dua: pulang dalam kondisi sehat atau pulang dalam kondisi meninggal,” pungkas Nurdiyansyah getir.

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts