Kendati demikian, pemerintah Korut tidak sepenuhnya menutup ruang diskusi. Mereka mengaku bersedia berdamai asalkan ada negosiasi yang pas atau harga yang tepat untuk dibayarkan.
- Luthfiatun Nisa
- Kamis, 18 Juni 2020 - 09:09 WIB
WowKeren - Korea Utara telah menolak tawaran pihak Korea Selatan untuk mengirim utusan khusus guna meredakan ketegangan antara kedua negara. Bukan hanya itu, pemerintahan presiden Kim Jong Un tersebut lantas mengaku akan memindahkan pasukan ke daerah-daerah perbatasan kedua negara.
"Presiden Korea Selatan Moon Jae-in ingin menawarkan untuk mengirim penasihat keamanan nasionalnya Chung Eui-yong dan kepala mata-mata Suh Hoon sebagai utusan khusus. Namun Kim Yo Jong, saudara perempuan pemimpin Koruta Kim Jong Un dan seorang pejabat senior partai yang berkuasa, dengan tegas menolak proposal yang tidak bijaksana dan menyeramkan itu," kata pemerintah Korut kepada kantor berita lokal KCNA, sebagaimana dilansir dari Reuters pada Kamis (18/6).
"Moon sangat suka mengirim utusan khusus untuk 'mengatasi krisis' dan sering mengajukan proposal tidak masuk akal, tetapi dia harus memahami dengan jelas bahwa trik seperti itu tidak akan lagi bekerja pada kita," lanjut KCNA.
Kendati demikian, pemerintah Korut tidak sepenuhnya menutup ruang diskusi. Mereka mengaku bersedia berdamai asalkan ada negosiasi yang pas atau harga yang tepat untuk dibayarkan.
"Solusi untuk krisis saat ini antara Utara dan Selatan yang disebabkan oleh ketidakmampuan dan sikap tidak bertanggung jawab pihak berwenang Korea Selatan adalah tidak mungkin dan itu dapat dihentikan hanya ketika harga yang pantas dibayarkan."
Penolakan itu membawa kemunduran besar pada upaya Presiden Korsel Moon Jae-in untuk menjalin rekonsiliasi yang lebih tahan lama dengan Korut. Langkah itu juga mempersulit upaya untuk membujuk Korut untuk meninggalkan program nuklir dan misilnya.
Di sisi lain, ketegangan kedua negara tersebut kembali tersulut menyusul para pembelot Korut yang menyebarkan propaganda dari Korsel. Pemerintah Korut bahkan mengancam akan memutuskan hubungan kedua negara.
Aktivis dan pembelot telah mengirimi selebaran propaganda anti-Korut dan berbagai benda lainnya melalui perbatasan. Langkah itu dianggap Pyongyang membahayakan negaranya.
Akibat hal itu, adik Kim Jong Un sekaligus pejabat senior Partai Buruh yang berkuasa, yakni Kim Yo Jong, sempat melontarkan kritik kepada Presiden Moon Jae-in. Dia menyebut Moon telah gagal mengimplementasikan salah satu dari pakta perjanjian 2018. Dia juga mengatakan bahwa Moon telah dan menempatkan lehernya ke dalam jerat pendukung Amerika.
Kantor Presiden Korsel lantas keberatan dengan pernyataan tersebut. Mereka menegaskan bahwa pernyataan itu sangat kasar dan tidak berperasaan serta merusak kepercayaan antar kedua pimpinan negara. "Kami tidak akan lagi menerima kebiasaan tidak beralasan semacam itu," kata Sekretaris pers kantor kepresidenan Korsel, Yoon Do-han.
Situasi bertambah buruk ketika Korut meledakkan kantor penghubungan antar-Korea di kawasan industri Kaesong, pada Selasa (16/6).
(wk/luth)