Rancangan penyelidikan PBB ini diturunkan setelah adik George Floyd mendesak Dewan HAM untuk menggelar penyelidikan terhadap brutalitas polisi dan diskriminasi rasial di AS.
- Luthfiatun Nisa
- Sabtu, 20 Juni 2020 - 07:31 WIB
WowKeren - Dewan Hak Asasi Manusia PBB akan melakukan penyelidikan praktik rasialisme dan diskriminasi di Amerika Serikat. Mereka mengecam diskriminasi rasial dan kekerasan polisi yang mengakibatkan kematian George Floyd di Minneapolis bulan lalu. Dewan HAM juga memerintahkan laporan rasisme sistemik terhadap warga keturunan Afrika segera disusun.
Sebanyak 47 negara anggota menyetujui resolusi tersebut dalam forum di Jenewa, Swiss. Resolusi yang didorong oleh negara-negara Afrika itu memberikan mandat pada kantor Komisioner Tinggi Hak Asasi Manusia Michelle Bachelet untuk menyerahkan laporan tersebut tahun depan.
Rancangan resolusi tersebut diturunkan setelah adanya negosiasi tertutup. Sebelumnya adik George Floyd mendesak PBB menggelar penyelidikan terhadap brutalitas polisi dan diskriminasi rasial di AS. Kematian Floyd memicu unjuk rasa ketidakadilan rasial di seluruh dunia.
"Saat Anda melihat kakak saya disiksa dan dibunuh di depan kamera adalah itulah bagaimana masyarakat kulit hitam diperlakukan polisi di Amerika," kata Philonise Floyd pada Dewan Hak Asasi Manusia PBB melalui video konferensi, dilansir Reuters pada Sabtu (20/6) lalu.
Philonise Floyd mendesak dibentuknya komisi independen untuk menyelidiki pembunuhan masyarakat kulit hitam yang dilakukan oleh polisi-polisi Amerika. Philonise juga meminta PBB menginvestigasi kekerasan yang dilakukan polisi terhadap demonstran damai.
"Anda melihat kakak saya meninggal, itu bisa saja saya, saya penjaga kakak saya, Anda di PBB adalah penjaga saudara dan saudari Anda di Amerika dan Anda memiliki wewenang untuk membantu kami menegakan keadilan bagi kakak saya George Floyd," katanya.
Di sisi lain, sejak tiga pekan bekalangan ini AS memang menghadapi gelombang demonstrasi besar-besaran. Demonstrasi ini dipicu akibat kematian George Floyd, seorang warga kulit hitam yang tewas akibat ulah polisi kulit putih Minneapolis. Mereka turun ke jalan dan menggelar demonstrasi besar-besaran untuk menuntut keadilan.
Kematian Floyd dinilai menjadi puncak amarah warga Amerika terkait diskriminasi dan sikap rasisme yang sistematis, terutama terhadap perlakuan aparat kepada warga kulit hitam dan minoritas.
Aksi protes pertama kali pecah di Minneapolis sehari setelah kematian Floyd hingga akhirnya menyebar ke seluruh penjuru AS. Demonstrasi dan gerakan solidaritas untuk Floyd dan anti-rasisme secara keseluruhan bahkan turut berlangsung di sejumlah negara Eropa, Amerika Latin, hingga Asia.
Belum mereda demonstrasi akibat kematian Floyd, pekan lalu seorang warga kulit hitam lainnya yakni Rayshard Brooks juga ditemukan tewas usai ditembak oleh polisi di Atlanta, Georgia.
Insiden penembakan Brooks ini terjadi pada Jumat (12/6) lalu ketika polisi berupaya menangkap Brooks di sebuah restoran cepat saji Wendy's di Atlanta. Awalnya, karyawan Wendy's melaporkan kepada pihak berwenang bahwa ada pria yang tertidur di dalam mobil di jalur drive-thru restoran. Pria tersebut adalah Brooks.
Biro Investigasi Georgia (GBI) menuturkan aparat lalu bergegas menuju lokasi dan mendapati Brooks tengah terlelap di dalam mobilnya. Polisi lalu melakukan tes kesadaran diri terhadap Brooks.
Brooks dinyatakan mabuk dan menolak untuk ditangkap hingga terlibat perkelahian. Brooks berhasil lolos dan mencoba kabur sambil membawa alat kejut listrik atau taser yang dipegang salah satu petugas. Belum jauh kabur, salah satu petugas yang mencoba menangkapnya melontarkan tembakan sebanyak tiga kali ke arah Brooks.
(wk/luth)