Korut Bakal Kirim Selebaran Propaganda Anti-Korsel di Perbatasan untuk 'Balas Dendam'
Reuters
Dunia

Sebelumnya ketegangan kedua negara meningkat setelah Korut meledakkan kantor penghubung antar-Korea akibat kelakuan para pembelot di Korsel yang mengirim selebaran anti-Korut.

WowKeren - Korea Utara berjanji akan terus mengirim selebaran propaganda ke Korea Selatan. Media pemerintah Korut mengatakan, Pyongyang juga tidak akan terikat dengan perjanjian antar-Korea.

Seperti yang diketahui, sebelumnya ketegangan kedua negara meningkat setelah Korea Utara meledakkan kantor penghubung antar-Korea dan mengancam tindakan militer atas kelakuan para pembelot di Korea Selatan yang mengirim selebaran anti-Korea Utara melintasi perbatasan.

Terkait hal ini, Kementerian Unifikasi Seoul, yang menangani urusan lintas perbatasan, pada Sabtu (20/6) mendesak Korut untuk membatalkan rencana itu. Pasalnya aksi itu dianggap bisa melanggar perjanjian perdamaian.

Namun Departemen Front Bersatu partai berkuasa di Korea Utara, yang bertanggung jawab atas urusan antar-Korea, menolak seruan kementerian Korsel tersebut dengan menyebutnya sebagai omong kosong yang tidak masuk akal.

"Mengingat kesalahan mereka sendiri, berani-beraninya mereka mengucapkan kata-kata seperti penyesalan dan pelanggaran?" juru bicara departemen mengatakan dalam sebuah pernyataan yang dilaporkan oleh kantor berita Korea Utara, KCNA, sebagaimana dilansir dari Republika pada Senin (22/6).

Sementara itu, hubungan Korea Utara dan Korea Selatan memang tengah merenggang. Ketegangan Korut dan Korsel ini dipicu oleh tindakan Pyongyang yang meledakkan kantor penghubung inter-Korea di perbatasan.


Korut meledakkan kantor penghubung dengan Korea Selatan di kota perbatasan Kaesong pada Selasa (16/6). Penghancuran kantor itu dilakukan Pyongyang lantaran merasa tak puas dengan Seoul karena tak bisa menghentikan para aktivisnya di perbatasan.

Presiden Korut Kim Jong Un geram dengan ulah aktivis Korsel yang kerap mengirimkan selebaran propaganda anti-Korut ke perbatasannya. Diketahui, sebagian dari aktivis Korsel itu merupakan pembelot dari Korut. Langkah itu dianggap Pyongyang membahayakan negaranya.

Beberapa kelompok yang dipimpin pembelot secara teratur mengirimkan selebaran bersama dengan makanan, uang kertas 1 dolar AS, radio mini dan stik USB, yang berisi tayangan drama dan berita Korea Selatan. Barang-barang itu biasanya dikirim dengan balon atau dalam botol di sungai melewati perbatasan.

Akibat hal itu, adik Kim Jong Un sekaligus pejabat senior Partai Buruh yang berkuasa, yakni Kim Yo Jong, sempat melontarkan kritik kepada Presiden Moon Jae-in. Dia menyebut Moon telah gagal mengimplementasikan salah satu dari pakta perjanjian 2018. Dia juga mengatakan bahwa Moon telah dan menempatkan lehernya ke dalam jerat pendukung Amerika.

Sebelum meledakkan kantor penghubung, Korut pun telah melontarkan sejumlah ancaman terhadap Korsel. Belum lama ini, Pyongyang menyatakan telah memutus hubungan komunikasi militer dan politik dengan Seoul akibat insiden selebaran propaganda tersebut.

Korut juga telah menolak tawaran pihak Korea Selatan untuk mengirim utusan khusus guna meredakan ketegangan antara kedua negara. Bukan hanya itu, pemerintahan presiden Kim Jong Un tersebut lantas mengaku akan memindahkan pasukan ke daerah-daerah perbatasan kedua negara.

Penolakan itu membawa kemunduran besar pada upaya Presiden Korsel Moon Jae-in untuk menjalin rekonsiliasi yang lebih tahan lama dengan Korut. Langkah itu juga mempersulit upaya untuk membujuk Korut untuk meninggalkan program nuklir dan misilnya.

(wk/luth)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait