Polusi udara diteliti dapat berpotensi meningkatkan risiko kematian pasien virus corona (COVID-19), begini penjelasan dari Guru Besar FKM Universitas Indonesia (UI).
- Ruth Meliana
- Sabtu, 27 Juni 2020 - 18:51 WIB
WowKeren - Polusi udara diteliti dapat meningkatkan risiko kematian pasien virus corona (COVID-19). Hal ini diungkapkan oleh Guru besar ilmu kesehatan lingkungan FKM (Fakultas Kesehatan Masyarakat) Universitas Indonesia (UI) Budi Haryanto.
Budi menjelaskan jika polusi udara dapat menyebabkan berbagai penyakit tidak menular menyerang manusia. Sejumlah penyakit tidak menular tersebut biasanya merupakan berbagai penyakit kronis seperti kanker, gangguan sistem saraf hingga penyakit jantung.
”Kita lihat bahwa kanker, penyakit jantung, penyakit napas, terhambatnya pertumbuhan fisik tubuh, kemudian gangguan sistem saraf, itu adalah gangguan sumbangsih dari polusi udara,” kata Budi dalam diskusi virtual bertema yang diadakan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) pada Sabtu (27/6). “Yang disebut di sana penyebabnya adalah polusi udara. Dan penyakit-penyakit ini adalah penyakit tidak menular.”
Berbagai penyakit kronis yang diderita seseorang akibat pengaruh polusi udara disebut Budi dapat berdampak fatal bagi pasien virus corona. Pasalnya, penyakit tersebut akan menjadi penyakit komorbid atau penyerta bagi pasien COVID-19 sehingga risiko kematian semakin meningkat.
”Kita lihat bahwa polusi udara ternyata menyebabkan gangguan-gangguan penyakit kronis,” jelas Budi. “Gangguan-gangguan penyakit kronis tersebut, yang kronis itu artinya menahun. Itulah yang kemudian jadi komorbiditas. Komorbiditas ini menyebabkan keparahan penderita COVID-19.
Pernyataan Budi tersebut berkaca pada penelitian yang dilakukan oleh akademisi Universitas Harvard, Amerika Serikat (AS). Dalam penelitan tersebut, ditemukan adanya kaitan antara kadar polusi di suatu wilayah dan kaitannya terhadap penderita corona.
Peneliti dari Harvard tersebut menyatakan pasien virus corona yang tinggal di wilayah polusi udara tinggi memiliki risiko kematian yang lebih besar daripada yang tinggal di wilayah rendah polusi. Selain AS, penelitian ini juga telah dilakukan di Italia.
”Kita lihat beberapa penelitian terbaru ternyata ditemukan mereka-mereka yang tinggal di wilayah polusi udara tinggi mempunyai risiko 4,5 kali lipat lebih tinggi meninggal akibat COVID-19 dibandingkan dengan mereka yang tinggal di wilayah polusi udara rendah,” terang Budi. “Itu temuan dari Harvard yang mencakup 98 persen populasi di Amerika Serikat.”
”Kemudian di Italia juga ditemukan seperti itu. Ternyata kematian COVID-19 di wilayah yang tinggi polusi itu di Italia 12 persen kematiannya,” sambungnya. “Sementara itu, di wilayah Italia lain yang rendah polusinya cuma 4,5 persen.”
Tak sampai disitu, penelitian tersebut bahkan telah mendapatkan perhatian serius dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Pasalnya, WHO langsung mengimbau agar setiap negara mulai memperhatikan faktor risiko polusi udara dan kaitannya terhadap pengendalian virus corona.
”Kemudian berbagai hasil riset ditemukan yang semuanya adalah koheren menemukan hal yg sama,” papar Budi. “Sehingga WHO, World Health Organization, menyebutkan suatu negara dengan tingkat polusi udara yang tinggi seperti kita di Indonesia harus mempertimbangkan faktor risiko polusi udara tersebut dalam persiapan pengendalian COVID-19. Karena polusi udara meningkatkan angka kematian yang tinggi.”
(wk/lian)