Tolak RI Dicap Negara Terburuk Atasi Corona, Kepala Gugus Tugas: Kami 3 Bulan Tidur di Kantor
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Kepala Gugus Tugas COVID-19, Doni Monardo, mengungkap Indonesia sempat dianggap negara dengan penanganan wabah terburuk. Doni pun menanggapi dingin hal tersebut dengan alasan ini.

WowKeren - Indonesia sudah mencatatkan lebih dari 80 ribu kasus positif COVID-19 hingga Kamis (16/7). Angka ini tentu bukan jumlah yang sedikit dan praktis menjadikannya sebagai salah satu yang terbanyak di Asia.

Tak hanya itu, penambahan kasusnya setiap hari pun mencapai ribuan pasien. Situasi itu ternyata membuat desas-desus bahwa Indonesia masuk dalam 10 besar negara dengan penanganan wabah virus Corona terburuk muncul.

Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Letjen TNI Doni Monardo pun ikut mengomentari soal desas-desus tersebut. Dan dengan tegas Doni menilai anggapan tersebut kurang tepat, apalagi melihat bagaimana perjuangan ia dan jajaran untuk bisa segera menyelesaikan wabah ini.

"Kalau ada pernyataan Indonesia termasuk 10 negara kurang bagus atau terjelek penanganannya, kami terus terang mengatakan kalimat itu belum atau tidak tepat," kata Doni dalam Sarasehan Kebangsaan, Kamis (16/7). "Karena membandingkan Indonesia dengan negara lain harus dilihat variabel yang sama."


Menurutnya saat ini pemerintah sudah sangat serius dalam menangani wabah COVID-19 yang tengah melanda. Kendati demikian aparat yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana ini pun mengaku usaha yang maksimal tentu masih membuat sejumlah pihak merasa tidak puas.

"Saya katakan (pemerintah) sangat serius. Kami Gugus Tugas selama 3 bulan tidur di kantor. Kalau kami enggak serius rasanya enggak mungkin tidur di kantor," tutur Doni, seperti dilansir dari Kumparan.

Ia tak menampik Indonesia memang masih memiliki kekurangan dalam menyelesaikan wabah. Hanya saja saat ini memang pandemi Corona melanda dengan tidak pandang bulu, bahkan negara-negara dengan sistem kesehatan terbaik dan kekuatan ekonomi luar biasa pun dibuat babak belur oleh virus infeksi saluran pernapasan ini.

"Tapi harus kita saksikan banyak negara dengan kekuatan ekonomi yang luar biasa dan sistem kesehatan terbaik di dunia, dengan sistem asuransi terbagus di dunia ternyata tak mampu mengendalikan. Oleh karena itu, melihat COVID-19 harus utuh penanganannya," jelas Doni.

Apalagi Indonesia dengan kondisi geografis yang begitu beragam membuat penanganan wabahnya pun tak bisa disamaratakan dengan negara lain. "Pak Presiden melihat Indonesia tak bisa melihat Jakarta, dan setiap daerah punya persoalan dan variasi ancaman yang berbeda," kata Doni.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts