Diketahui, jumlah kasus positif corona 9COVID-19) di Indonesia mencapai 86.521 per Minggu (19/7), sedangkan Tiongkok mencatatkan 83.682 kasus positif corona.
- Bertilia Puteri
- Senin, 20 Juli 2020 - 15:31 WIB
WowKeren - Jumlah pasien COVID-19 di Indonesia telah melampaui Tiongkok sejak Sabtu (18/7). Diketahui, jumlah kasus positif corona di Indonesia mencapai 86.521 per Minggu (19/7), sedangkan Tiongkok mencatatkan 83.682 kasus.
Ahli epidemiologi Universitas Airlangga Surabaya, Windhu Purnomo, lantas mengungkapkan strategi utama dalam menurunkan jumlah kasus positif COVID-19 di Indonesia. Yaitu dengan cara memperbanyak tes corona.
"Testing, kita dapat 'oh ini positif', langsung diisolasi," tutur Windhu dilansir CNN Indonesia pada Senin (20/7). "Kemudian siapa yang kontak dengan dia, misal dengan seorang positif COVID-19 ya masa inkubasinya sampai 14 hari dan kita lihat siapa yang dia kontak 14 hari ke belakang."
Windhu juga menjelaskan bahwa begitu klaster didapatkan, maka isolasi harus langsung dilakukan. Baik bagi yang menderita COVID-19 dengan gejala sedang hingga berat.
Meski menyarankan perluasan tes corona, Windhu menyadari bahwa tes PCR masih tergolong mahal. Ia mengungkapkan cara lain yang dapat ditempuh untuk mengurangi anggaran adalah dengan melakukan metode pool testing.
"PCR mahal tapi sekarang sudah ada metode terutama di negara- negara berkembang dan di jurnal- jurnal sudah menunjukkan validitasnya setara yaitu pool testing," papar Windhu. "Pool testing artinya setiap 30 orang dikumpulkan menjadi satu spesimen. Jadi kalau negatif berarti 30 orang itu negatif semua. Tetapi kalau ada yang positif baru setiap orang diperiksa karena sudah punya swab masing-masing."
Dengan metode tersebut, Windhu yakin jumlah tes corona dapat ditingkatkan dan anggaran PCR yang mahal dapat diturunkan. Pasalnya, validitas pool testing setara dengan tes individual.
Sebelumnya, ahli epidemiologi Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, menyoroti jumlah tes di Indonesia yang masih berada jauh di bawah Tiongkok. Dicky menyebut pemerintah harus mewaspadai hal ini karena masih banyak kasus COVID-19 yang mungkin belum terdeteksi.
"Yang harus jadi perhatian dan waspada adalah perbedaan yang sangat jauh dalam kapasitas testing tracing kita dan China," jelas Dicky dilansir CNN Indonesia. "Dengan jumlah kasus yang hampir sama, kita baru melakukan tes pada orang sekitar 700 ribu. Sedangkan China hampir 90 juta."
(wk/Bert)