Ahli forensik mengungkapkan berbagai kejanggalan terkait misteri kematian editor Metro TV, Yodi Prabowo. Sebut kemungkinan bunuh diri berdasarkan temuan polisi.
- Ruth Meliana
- Kamis, 23 Juli 2020 - 07:44 WIB
WowKeren - Kematian editor Metro TV, Yodi Prabowo yang ditemukan tewas di pinggir jalan Tol JORR, Jakarta Selatan, Jumat (10/7) lalu masih menjadi misteri. Kini, kasus kematian Yodi mengundang sejumlah analisis dari ahli forensik.
Kepolisian sendiri masih belum mampu mengungkap kasus tersebut. Di awal-awal penyelidikan, muncul dugaan jika Yodi dibunuh lantaran ditemukan sejumlah luka di sekujur tubuhnya. Diantaranya adalah adanya luka tusukan dan sayatan di sekitar leher Yodi.
Namun, Ahli Forensik Reza Indragiri justru menyebut ada kemungkinan Yodi meninggal dunia karena bunuh diri. Ia menjelaskan jika temuan polisi dan juga keterangan saksi dalam kasus ini bisa menguatkan kemungkinan tersebut.
”Narasi yang terbangun di publik nampaknya ke pembunuhan,” kata Reza seperti dilansir dari Kumparan, Kamis (23/7). “Ada dasar keilmuan untuk juga menduga bahwa ini bukan pembunuhan.”
Reza mendesak polisi untuk menyelidiki kematian Yodi lebih dalam lagi. Hal ini dilakukan agar tidak memunculkan narasi yang belum jelas kebenarannya kepada publik, seperti pembunuhan.
Dari hasil analisa lapangan, Reza mengatakan jika ada kemungkinan Yodi bunuh diri. Ia memberikan contoh bukti yang dapat mengarahkan kasus kematian Yodi karena bunuh diri, yakni melalui sebuah kutipan saksi.
Kutipan tersebut merupakan keterangan dari pacar Yodi, Suci Fitri Rohmah. Dalam keterangannya sebagai saksi, Suci membeberkan tingkah laku aneh Yodi sebelum ditemukan tewas. Selain itu, Yodi juga telah melontarkan kata-kata yang tidak biasa dan menyiratkan kemungkinan ingin bunuh diri.
”Tapi aku menemukan kutipan yang menurutku punya nilai signifikan dalam pengungkapan kasus ini,” ungkap Reza. “Polisi yang simpulkan. “Kata Yodi sebelum tewas, ‘Kalau nanti aku enggak ada, kamu sedih enggak?'”
”Orang awam barangkali menganggap sepele perkataan semacam itu,” sambungnya. “Tapi dari perspektif psikologi, kalimat tersebut merupakan pertanda suicidal ideation (pemikiran tentang bunuh diri).”
Lebih lanjut Reza mengatakan perkataan tersebut tidak boleh dianggap enteng oleh kepolisian. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri telah menyimpulkan sekitar 60 persen transisi dari pemikiran tentang bunuh diri ke rencana bunuh diri lalu berlanjut ke langkah bunuh diri hanya berlangsung dalam kurun 12 bulan sejak pemikiran itu muncul pertama kalinya.
”Cepatnya proses transisi itu mengirim pesan bahwa masyarakat harus lebih serius menyikapi perkataan tentang bunuh diri yang dikemukakan siapa pun,” papar Reza. “Seperti otoritas penerbangan yang tidak menoleransi ucapan 'bom' siapa pun juga perlu menyemangati orang-orang dengan suicidal ideation.”
”Orang dengan suicidal ideation untuk selekasnya diharapkan mencari bantuan medis dan psikis,” sambungnya. “Masyarakat yang lebih paham pentingnya keseriusan menyikapi suicidal ideation akan menjadi protective factor bagi tercegahnya aksi bunuh diri.”
(wk/lian)