Relawan yang datang diminta untuk menunjukkan surat keterangan bebas COVID-19 dan bagi yang tidak memiliki diminta memeriksakan diri ke Tim Gerak Cepat (TGC)
- Zodiak Yanuarita
- Kamis, 23 Juli 2020 - 09:11 WIB
WowKeren - Lebih dari 14 ribu orang harus mengungsi akibat banjir yang terjadi di Luwu Utara. Ribuan orang tersebut tersebar di 69 lokasi pengungsian.
Oleh sebab itu, Gugus Tugas COVID-19 Luwu Utara mewaspadai munculnya klaster baru virus corona, bukan hanya dari relawan tetapi juga pengungsi. Sebab, relawan yang berdatangan berasal dari berbagai daerah.
Mereka berasal dari wilayah zona merah, daerah risiko tinggi, dan sedang. Namun pada dasarnya, pihak Gugus Tugas sudah mewasapdai terkait risiko penularan COVID-19. Hal itu sebagaimana dikemukakan oleh Juru bicara Gugus Tugas COVID-19 Luwu Utara, Komang Krisna.
Ia pun berharap tidak akan muncul klaster baru. "Terus terang secara pribadi, saya takut jangan sampai muncul klaster baru. Klaster pengungsi atau klaster relawan," kata Komang dilansir CNN Indonesia, Kamis (23/7).
Jumlah relawan yang masuk pun juga tidak terbendung. kendati demikian, ia menyatakan jika Luwu Utara membutuhkan semua itu sehingga tidak bisa menutup diri. Sebagai langkah antisipasi, pihaknya akan selalu mendata relawan yang masuk.
Relawan yang datang diminta untuk menunjukkan surat keterangan bebas COVID-19 dan bagi yang tidak memiliki diminta memeriksakan diri ke Tim Gerak Cepat (TGC). Namun, ia mengakui jika hal itu memang tidak bisa dipaksakan.
"Jadi yang bisa dilakukan adalah mengharapkan kesadaran untuk mematuhi protokol kesehatan," ujarnya melanjutkan. "Hal ini telah disampaikan sejak hari ke 5 pasca bencana."
Selain itu, di pengungsian, protokol pencegahan COVID-19 untuk menjaga jarak juga sulit dilakukan. Sehingga berkumpulnya para pengungsi di posko juga sangat mengkhawatirkan.
Hal senada juga dikemukakan oleh Ketua BPBD Luwu Utara, Muslim Mukhtar. Menurutnya, persoalan terkait relawan dan potensi klaster baru adalah dilema.
"Ini berat bagi kami. Kalau diperketat orang masuk, itu akan mengurangi empati masyarakat ke Luwu Utara," ungkap Mukhtar masih dilansir CNN Indonesia. "Sementara diketahui, masyarakat khususnya masyarakat Sulsel tinggi jiwa kekeluargaannya dan semangat saling bantu."
(wk/zodi)