Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengungkapkan pola penyebaran virus corona, beberkan ancaman ‘ledakan’ kasus COVID-19 di Indonesia.
- Ruth Meliana
- Jumat, 24 Juli 2020 - 14:28 WIB
WowKeren - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah merekayasa model simulasi terkait prediksi dampak penerapan new normal. BBPT menyatakan jika Indonesia saat ini memang telah menunjukkan kenaikan angka kesembuhan pasien virus corona (COVID-19).
Meski demikian, BPPT menegaskan hasil positif tersebut belum membuat Indonesia bebas dan aman dari penularan virus corona. Perekayasa utama model simulasi prediksi dampak new normal dari BPPT, Sri Handoyo Mukti menyebut tren penularan virus corona di Indonesia semakin tinggi dan bahkan terancam meledak.
Sri Handoyo menjelaskan jika kasus baru virus corona masih menunjukkan terjadinya penularan di lapangan. Tren kasus COVID-19 saat ini juga berpotensi menyebar dan menularkan ke lebih banyak orang, dimana hal ini cukup berbahaya mengingat jumlah populasi di Indonesia yang sangat besar.
Di sisi lain, Sri memaparkan jika dampak ledakan virus corona di Indonesia sendiri memiliki efek positif. Pasalnya, semakin banyak pasien yang terinfeksi virus corona dan dirawat di rumah sakit, maka proses penyembuhannya pun akan menjadi lebih singkat dan masif.
”Dan sewaktu-waktu masih bisa meledak,” jelas Sri Handoyo seperti dilansir dari CNNIndonesia, Jumat (24/7). “Pada awal-awal pandemi itu penyembuhan dalam 100 hari, sekarang ini sekitar dua hingga tiga pekan.”
Mengenai kemungkinan rumah sakit mengalami kewalahan pasien COVID-19, Sri memberikan pendapatnya. Menurutnya, 80 persen kasus virus corona di Indonesia saat ini berasal dari orang tanpa gejala (OTG).
Sedangkan 20 persen lainnya merupakan pasien COVID-19 dengan gejala ringan, sedang, hingga berat. Dari 20 persen kasus positif yang terkonfirmasi tersebut, sebanyak 18 persen membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit.
Data tersebut membuatnya yakin jika fasilitas kesehatan di Tanah Air masih sanggup menangani pasien virus corona yang membutuhkan perawatan. Ia mengungkap setiap rumah sakit setidaknya harus menyiapkan sekitar 50 persen tempat tidur kosong demi mengantisipasi ledakan kasus virus corona yang mungkin bisa terjadi.
Lebih lanjut Sri menjelaskan jika pola penularan virus corona masih sama, dari pertama ditemukan hingga sekarang dalam tahap menuju new normal. Namun, ia mengingatkan ada kemungkinan pola penularan virus berubah. Pasalnya, pola penyebaran virus selalu bergantung dari intervensi dan juga pola hidup maupun mobilitas masyarakat.
(wk/lian)