Psikolog Ungkap Hal Mengejutkan Soal Mereka yang Percaya COVID-19 Konspirasi
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Bagi kaum semacam ini, meskipun informasi valid mengenai bahaya virus corona tersedia secara luas, namun sikap tidak peduli mereka membuat mereka tidak terinformasi dengan baik.

WowKeren - Kasus corona di Indonesia kian menjadi sorotan. Apalagi usai pemerintah kembali mencatatkan penambahan kasus pada Senin (27/7), dimana kasus positif di RI sudah tembus melebihi 100 ribu.

Namun sayangnya, tak sedikit orang-orang di negeri ini yang meyakini jika virus corona tak lebih dari sekadar konspirasi belaka. Kaum yang tidak percaya bahaya virus corona sesuai dengan yang disepakati ilmuwan, lebih sibuk berpegang teguh pada keyakinan mereka, bahwa virus corona bisa jadi tidak seberbahaya yang digencarkan selama ini atau bahkan tidak ada.

Ketua Satgas Ikatan Psikolog Klinis Indonesia untuk Penanganan COVID-19, Annelia Sani Sari, angkat bicara mengenai fenomena ramainya penganut teori konspirasi ini. Menurutnya, sikap denial atau penyangkalan disebabkan oleh rasa tidak peduli.

"Ini kembali juga kepada ciri pribadi orang tersebut yang kita sebut ignorant, ketidakpedulian," kata Annelia dilansir dari Kumparan, Selasa (28/7). "Orang-orang ignorant ini umumnya tidak termotivasi untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya dan informasi yang valid."


Bagi kaum semacam ini, meskipun informasi valid mengenai bahaya virus corona tersedia secara luas, namun sikap tidak peduli mereka membuat mereka tidak terinformasi dengan baik. Sikap semacam ini juga tak berhubungan dengan latar belakang seseorang. Alih-alih mencari informasi yang benar terkait corona, mereka akan lebih memilih untuk tenggelam dalam hoaks.

Lebih jauh, Annelia menyebut jika salah satu faktor yang menyebabkan orang bersikap denial terhadap bahaya COVID-19 adalah karena mereka pada dasarnya merasa takut. Ketakutan ini, membuat mereka menutup mata terhadap fakta di lapangan.

Ia menyebut ada tiga tahapan yang dilalui seseorang dalam mengolah informasi yang didapatnya, yakni tahap primitif, emosional, dan rasional. Orang yang meremehkan corona, disebut Annelia belum mampu menyaring informasi yang mereka dapat ke tahap rasional.

"Nah, dugaan saya, informasi mengenai COVID-19 ini sedemikian menakutkannya sehingga dia terjegal di level emosi," jelas Annelia. "Jadi, dia nggak bisa masuk nih ke tahap rasional."

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts