Ridwan Kamil Ungkap Warga Jabar Tak Bermasker Kemungkinan Mulai Didenda Pekan Depan
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menjelaskan bahwa penggunaan masker yang disiplin seperti di Jepang bisa efektif menurunkan angka penyebaran virus corona (COVID-19).

WowKeren - Pemerintah Provinsi Jawa Barat membuka kemungkinan akan mulai memberikan sanksi berupa denda kepada warganya yang tak mengenakan masker di ruang publik pekan depan. Hal ini disampaikan langsung oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

Adapun besaran denda bagi warga Jawa Barat yang tak bermasker di tengah pandemi corona ini berkisar antara Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu. "Nah, efektivitasnya mungkin baru nanti minggu depan karena baru dimulai di hari-hari ini," terang Gubernur yang akrab disapa Kang Emil ini dalam diskusi yang ditayangkan di kanal YouTube SindoNews pada Selasa (28/7).

Tak hanya denda, Pemprov Jawa Barat nantinya juga akan memberikan diskresi berupa hukuman sosial bagi warga tak bermasker. Adapun diskresi tersebut diberikan kepada warga yang memang khilaf kala ditindak oleh aparat. Sanksi denda tersebut juga akan diterapkan dengan memanfaatkan aplikasi.


"Kita juga mendenda menggunakan aplikasi sehingga siapa yang kena datanya langsung masuk dan kuitansinya langsung dikirim ke HP masing-masing," jelas Kang Emil. "Sehingga tiap hari kita tahu berapa yang dilakukan denda itu dengan sistem seperti itu."

Kang Emil menjelaskan bahwa penggunaan masker yang disiplin seperti di Jepang bisa efektif menurunkan angka penyebaran COVID-19. Menurut Kang Emil, penggunaan masker dapat menurunkan penyebaran corona di Jawa Barat tanpa harus mempengaruhi perekonomian daerah seperti jika lockdown diterapkan.

Oleh sebab itu, sanksi denda kini akan diterapkan setelah Pemprov Jabar melakukan edukasi serta teguran pada warga. Kang Emil menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan proses edukasi dan teguran pada April hingga Juli lalu.

"Jadi pada dasarnya saya sih enggak suka menghukum ya, tapi angka penyakit ini berhubungan dengan kedisiplinan, karena belum selevel bangsa Jepang yang sudah disiplin, bukan melakukan lockdown tapi memakai masker," pungkas Kang Emil. "Maka kita lakukan tiga level instrumen, dua bulan pertama itu kita edukasi April-Mei, kemudian Juni-Juli itu surat teguran kan ada surat tilang, nah setelah edukasi dan teguran ternyata masih 50-an persen, nah kita coba (beri sanksi)."

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts