Lima Wanita Mesir Divonis Penjara 2 Tahun Karena Main TikTok
SerbaSerbi

Lima wanita itu juga didenda sebesar 300 ribu pound Mesir (atau sekitar Rp276 juta) karena dianggap melanggar nilai-nilai dan prinsip-prinsip keluarga Mesir dan mempromosikan perdagangan manusia.

WowKeren - Pengadilan Mesir menjatuhkan vonis dua tahun penjara kepada lima wanita pada Senin (27/7) lalu. Vonis tersebut diberikan karena kelima wanita itu mengunggah video tari yang dinilai tidak senonoh melalui aplikasi TikTok.

Dilansir dari CNN, lima wanita itu masing-masing juga didenda sebesar 300 ribu pound Mesir (atau sekitar Rp276 juta) karena dianggap melanggar nilai-nilai dan prinsip-prinsip keluarga Mesir dan mempromosikan perdagangan manusia.

Menurut pernyataan dari jaksa penuntut umum, dua dari lima terdakwa merupakan pelajar berusia 20 tahun bernama Haneen Hossam, dan rekannya berusia 22 tahun bernama Mawada Eladhm. Sementara tiga wanita lainnya bertugas membantu menjalankan akun media sosial keduanya.

Pengacara Eladhm, Ahmed el-Bahkeri membenarkan hukuman itu. Penuntut menganggap foto dan video Eladhm memalukan dan menghina. Namun pengacara mereka bersumpah untuk mengajukan banding atas putusan itu.


"Eladhm menangis di pengadilan. Dua tahun? 300 ribu pound Mesir? Ini benar-benar sesuatu yang sangat sulit diterima," kata asisten Ahmed, Samar Shabana. "Mereka hanya menginginkan pengikut (di TikTok) bertambah. Mereka bukan bagian dari jaringan prostitusi manapun," tambahnya.

Disebutkan bahwa Haneen Hossam dan Mawada Eladhm baru-baru ini menuai ketenaran di TikTok, mereka mengumpulkan jutaan pengikut dari cuplikan video yang mereka unggah. Di masing-masing video berdurasi 15 detik, mereka berpose di mobil, menari di dapur, dan bercanda.

Akan tetapi, konten-konten tersebut justru menjadi bumerang di Mesir. Di negara Piramida tersebut, warganya dapat dikenai hukuman penjara karena dituduh melakukan kejahatan yang tidak jelas seperti "menyalahgunakan media sosial", "menyebarkan berita palsu", atau "mempertontonkan tindakan amoral".

Meskipun Mesir jauh lebih liberal daripada negara-negara Teluk Arab lainnya, tetapi Mesir mulai mengarah pada paham konservatif selama setengah abad terakhir. Penari perut, diva pop, dan influencer media sosial menghadapi reaksi keras karena dianggap melanggar norma.

Rentetan penangkapan karena "masalah moral" merupakan bagian dari sikap keras pemerintah Mesir terhadap kebebasan pribadi sejak Presiden Abdel Fattah el-Sissi berkuasa pada 2013.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts