Ekonomi Hong Kong Anjlok 9 Persen, Kembali Alami Resesi Keempat Kali
Pixabay
Dunia
Potensi Resesi Imbas COVID-19

Hong Kong mencatatkan kontraksi ekonomi sampai 9 persen di Kuartal II 2020, Rabu (29/7). Dengan demikian Hong Kong sudah mengalami resesi sebanyak 4 kali berturut-turut.

WowKeren - Resesi perekonomian menjadi dampak mengerikan selanjutnya yang mesti dihadapi negara-negara di tengah pandemi COVID-19. Bahkan negara dengan perekonomian yang sudah stabil dan baik, misal Singapura dan Korea Selatan, ikut mengalami resesi alias anjlok hingga level minus sebanyak 2 kali atau lebih berturut-turut.

Termasuk diantaranya yang ikut mengalami resesi adalah Hong Kong. Kota di bawah Tiongkok itu kembali mengalami kontraksi perekonomian sampai minus 9 persen pada Kuartal II 2020 berdasarkan data yang dirilis Rabu (29/7).

Kontraksi pada Kuartal II ini menjadikannya yang keempat kali secara berturut-turut. Penyusutan kondisi ekonomi Hong Kong sudah mulai terjadi sejak pertengahan 2019 ketika massa melakukan protes besar-besaran terhadap pemerintahan Tiongkok di Beijing.

Namun demikian, kontraksi yang dialami kali ini lebih baik ketimbang Kuartal I 2020 yang mencapai minus 9,1 persen. Namun situasi ini dianggap bisa menjadi lebih parah lagi mengingat sekarang Hong Kong sedang dihadapkan dengan potensi gelombang kedua wabah COVID-19.


"Ekonomi Hong Kong stabil pada kuartal terakhir ini karena stimulus fiskal dan permintaan yang lebih kuat di Tiongkok," kata Ekonom Tiongkok untuk Capital Economics, seperti dikutip CNN Business, Kamis (30/7). "Mengimbangi konsumsi dan investasi yang melemah."

Perihal ancaman terhadap perekonomian Hong Kong oleh gelombang kedua wabah juga diamini oleh Kepala Keuangan Hong Kong, Paul Chan. Lewat postingan di blognya, Chan menilai diperlukan waktu yang jauh lebih lama untuk memulihkan ekonomi karena Hong Kong sedang dihadapkan dengan gelombang kedua wabah.

"Jalan bergelombang menuju pemulihan," ujar Chan dalam postingan blognya, Minggu (26/7). "Terulangnya epidemi lokal baru-baru ini, menunjukkan bahwa mungkin diperlukan waktu lama untuk ekonomi lokal pulih."

Diketahui Hong Kong memang sedang dalam kepungan krisis politik dan kesehatan yang sangat berat. Selain perkara COVID-19, Hong Kong juga menjadi "medan perang" perselisihan antara Tiongkok dan Amerika Serikat.

Sebelumnya, Pemimpin Hong Kong, Carrie Lam mengamini bahwa daerah yang dipimpinnya itu akan berhadapan dengan pandemi skala besar. Hal ini didukung fakta soal adanya 106 kasus COVID-19 baru yang dikonfirmasi pada Selasa (28/7) kemarin, menjadikannya yang terburuk usai Hong Kong bisa mengendalikan wabah beberapa bulan silam.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts