Berencana Buka Sekolah di Tengah Pandemi, Pemkot Surabaya Dikritik Epidemiolog
Nasional
Sekolah di Tengah Corona

Pakar epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair), Windhu Purnomo, meminta Pemkot Surabaya memikirkan kembali rencana pembukaan sekolah di tengah pandemi corona.

WowKeren - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berencana untuk kembali memulai kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka di tengah pandemi corona. Pemkot Surabaya akan melaksanakan pilot project alias uji coba yang melibatkan 21 Sekolah Menengah Pertama (SMP), baik swasta maupun negeri.

Rencana Pemkot Surabaya untuk menggelar pembelajaran tatap muka di beberapa SMP ini lantas dikritik oleh pakar epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair), Windhu Purnomo. Pemkot diminta Windhu untuk berhati-hati lantaran secara epidemiologis Surabaya masih belum aman dari ancaman COVID-19.

Menurut Windhu, Surabaya masih berada di zona merah dan tingkat penularannya masih tinggi. "Kriteria WHO dan Bappenas, tingkat penularan yang simbolnya Rt (rate of transmission) harus di bawah 1 selama 14 hari berturut-turut," terang Windhu pada Selasa (4/8).

Lebih lanjut, Windhu menjelaskan bahwa tingkat penularan (Rt) COVID-19 di Kota Surabaya kini masih fluktuatif, yang berarti belum bisa dikendalikan. Menurut Windhu, hal ini tampak dari masih tingginya penambahan kasus harian COVID-19. Selain itu, Windhu juga menyinggung soal tingkat kematian COVID-19 yang juga masih tinggi di Kota Surabaya.


"Surabaya masih tinggi, 8,9 persen, padahal nasional kurang 4,5 persen," ungkap Windhu. "Sedangkan WHO targetnya 2 persen. Jadi tingkat keamanan Surabaya masih jauh."

Pemkot Surabaya pun diminta untuk memperhatikan aktivitas siswa dari mulai berangkat hingga pulang sekolah ketika memutuskan untuk memulai proses KBM tatap muka. Pasalnya, Windhu menilai siswa yang berangkat sekolah menggunakan transportasi umum juga rentan tertular COVID-19.

"Berangkat dari rumah menuju sekolah itu pasti ada yang naik transportasi umum, dan itu berisiko tinggi karena seringkali jaga jarak dilanggar," kata Windhu. "Apa Pemkot mau mengikuti anak dari berangkat sampai pulang sekolah sampai rumah, tentu kan tidak mungkin."

Tak hanya itu, Windhu juga mengingatkan bahwa Satgas COVID-19 telah menetapkan sekolah yang harusnya dibuka terlebih di daerah zona hijau adalah SMA, bukan SMP. "Ini saya setuju karena siswa SMA lebih dewasa untuk kepatuhan protokol kesehatan. Kalau SMA setelah dievaluasi bagus baru SMP, lanjut SD," pungkasnya.

Dengan banyaknya faktor tersebut, Windhu pun mewanti- wanti Pemkot Surabaya untuk memikirkan ulang rencana pembukaan kembali SMP di tengah pandemi corona. Windhu menilai tidak ada masalah jika yang dilakukan hanya simulasi, namun pembukaan kembali sekolah harus dipikirkan berulang kali.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts