Menteri Keuangan Mesir, Mohamed Mait, mengatakan bahwa pada Desember mendatang gudang pelabuhan di Mesir akan benar-benar bersih dari barang-barang yang terbengkalai.
- Luthfiatun Nisa
- Selasa, 18 Agustus 2020 - 14:57 WIB
WowKeren - Mesir dilaporkan mulai membuang bahan-bahan berbahaya dan barang-barang yang ditinggalkan di sejumlah gudang di pelabuhan. Negeri Piramid tersebut rupanya ingin melindungi negaranya dari ledakan tak terduga seperti yang terjadi di pelabuhan Beirut, Lebanon, pada 4 Agustus lalu.
"Apa yang terjadi di Beirut membuat kami memeriksa situasi kami sendiri dan kami benar-benar menyingkirkan sejumlah besar material yang terbengkalai dan terlantar serta berbahaya yang ada di pelabuhan," ujar Menteri Keuangan Mesir, Mohamed Mait.
Mait mengatakan ada beberapa barang yang telah dikirim ke sejumlah kementerian termasuk minyak dan alat pertahanan. Ia juga memastikan pada Desember mendatang gudang pelabuhan di Mesir akan benar-benar bersih dari barang-barang yang terbengkalai.
Disebutkan bahwa beberapa hari setelah terjadi ledakan di Beirut, Kementerian Penerbangan Sipil Mesir memerintahkan peninjauan material di bandara dan pemindahan barang berbahaya ke penyimpanan yang aman. Mesir tidak ingin kejadian di pelabuhan Beirut menimpa negaranya.
Sebelumnya, ledakan dahsyat di pelabuhan Beirut disebabkan ribuan amonium nitrat yang disimpan digudang selama bertahun-tahun tanpa pengamanan. Amonium nitrat sendiri memiliki kegunaan ganda sebagai pupuk atau bahan peledak.
Presiden Lebanon Michael Aoun telah menyatakan bahwa insiden ini disebabkan oleh meledaknya 2.750 ton amonium nitrat yang tersimpan di sebuah gudang di dekat pelabuhan selama lebih dari enam tahun. Bahan tersebut seharusnya dikirim ke Mozambik dari Georgia. Namun kapal tidak diizinkan meninggalkan Beirut karena belum membayar biaya pelabuhan.
Aoun juga menyebut total nilai kerugian akibat ledakan di Pelabuhan Beirut mencapai USD 15 miliar atau setara dengan Rp221 triliun. Selain itu, ledakan tersebut menewaskan 200 orang dengan ribuan warga yang terluka, menghancurkan area hingga radius 5 kilometer. Disebutkan pula sebanyak 300 ribu penduduk Libanon kehilangan tempat tinggal layak akibat hancur atau rusak berat terdampak ledakan.
Dua ledakan besar yang mengguncang Beirut terjadi di tengah krisis ekonomi dan pandemi COVID-19 yang menghimpit Lebanon. Warga Lebanon turun ke jalan-jalan untuk berunjuk rasa memprotes pemerintah, meskipun Perdana Menteri Hassan Diab dan pemerintahannya telah mengundurkan diri.
Perdana Menteri Hassan Diab resmi mengumumkan pengunduran diri di tengah krisis yang terjadi di Lebanon. Hassan Diab menyampaikan secara langsung pengunduran dirinya dan pemerintahannya. Pengunduran diri Diab disampaikan pada 10 Agustus lalu, atau kurang dari seminggu setelah ledakan di Beirut terjadi.
(wk/luth)