Seorang wanita bernama Romy Zakhour Lauret tak segan menunjukkan wajahnya yang kini dipenuhi bekas luka akibat imbas insiden tersebut, meskipun kala itu posisinya berada cukup jauh dari lokasi ledakan.
- Luthfiatun Nisa
- Selasa, 18 Agustus 2020 - 16:00 WIB
WowKeren - Insiden ledakan dahsyat di Beirut, Lebanon, pada 4 Agustus lalu memang masih menjadi sorotan global hingga kini. Sebagaimana yang diketahui, insiden tersebut telah merenggut ratusan korban jiwa, ribuan korban luka, serta menghancurkan ratusan ribu bangunan di sebagian besar wilayah Beirut.
Terkait insiden maut tersebut, belum lama ini salah satu korban membagikan kisah pilunya. Dilansir dari BBC, seorang wanita bernama Romy Zakhour Lauret tak segan menunjukkan wajahnya yang kini dipenuhi bekas luka akibat imbas ledakan tersebut, meskipun kala itu posisinya berada cukup jauh dari lokasi ledakan.
"Aku menelepon ayahku untuk memberitahunya bahwa aku baik-baik saja. Tapi saat aku menyentuh wajahku, aku merasakan ada banyak darah yang menutupi wajahku," tutur Lauret, mengenang insiden ledakan tersebut. "Dan aku tidak ingin dia merasa khawatir saat dia bertemu denganku."
Lauret mengaku bahwa dirinya sedang dalam perjalanan untuk menjemput suaminya saat ledakan tersebut terjadi. Ia sempat merekam insiden ledakan pertama di pelabuhan Beirut, sebelum akhirnya ia terkena dampak ledakan kedua yang lebih dahsyat.
"Saat kami tiba di rumah sakit, rasanya seperti di film-film di mana aku masih memiliki kesempatan dibandingkan (korban) lainnya," paparnya. "Karena aku melihat banyak orang di jalanan, orang-orang yang bahkan kehilangan mata mereka."
Dalam lanjutan keterangannya, Lauret juga memuji para warga Lebanon yang bahu membahu membantu sesama korban. Kendati demikian, ia juga mengkritik pemerintah Lebanon yang menurutnya lalai dan membiarkan ribuan ton amonium nitrat meledak di pelabuhan karena disimpan bertahun-tahun tanpa pengamanan.
"Saat aku melihat warga Lebanon membantu satu sama lain tanpa pamrih, hal itu membuatku bangga menjadi salah satu orang Lebanon," lanjutnya. "Tapi saat aku melihat yang lainnya yang tak ingin kusebutkan namanya, yang tetap berada di kediaman mereka dan melihat kami yang sekarat, melihat kami yang cacat, melihat kami yang kehilangan keluarga kami karena ulah mereka, aku merasa sangat malu."
Di sisi lain, Presiden Lebanon Michael Aoun telah menyatakan bahwa insiden ini disebabkan oleh meledaknya 2.750 ton amonium nitrat yang tersimpan di sebuah gudang di dekat pelabuhan selama lebih dari enam tahun. Bahan tersebut seharusnya dikirim ke Mozambik dari Georgia. Namun kapal tidak diizinkan meninggalkan Beirut karena belum membayar biaya pelabuhan.
Aoun juga menyebut total nilai kerugian akibat ledakan di Pelabuhan Beirut mencapai USD 15 miliar atau setara dengan Rp221 triliun. Selain itu, ledakan tersebut menewaskan 200 orang dengan ribuan warga yang terluka, menghancurkan area hingga radius 5 kilometer. Disebutkan pula sebanyak 300 ribu penduduk Libanon kehilangan tempat tinggal layak akibat hancur atau rusak berat terdampak ledakan.
Dua ledakan besar yang mengguncang Beirut terjadi di tengah krisis ekonomi dan pandemi COVID-19 yang menghimpit Lebanon. Warga Lebanon turun ke jalan-jalan untuk berunjuk rasa memprotes pemerintah selepas insiden ledakan terjadi.
(wk/luth)