Badan Obat-Obatan AS Setujui Terapi Plasma Darah, Bantah Diperintah oleh Trump
Dunia

Kepala FDA menyatakan keputusan itu diambil karena berdasarkan hasil data penelitian yang menunjukkan bahwa metode plasma darah dinilai berdampak positif.

WowKeren - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA), Dr. Stephen Hahn, menyatakan menyetujui penggunaan plasma darah untuk pasien virus corona (COVID-19), tetapi membantah mendapat tekanan dari Presiden AS, Donald Trump.

Dilansir dari CNN, Hahn menyatakan keputusan itu diambil karena berdasarkan hasil data penelitian menunjukkan metode itu dinilai berdampak positif. "Dari penilaian para pakar dan ahli di FDA, dari sejumlah data penelitian yang diterbitkan, para peneliti itu menyimpulkan bahwa plasma darah aman dan cukup manjur, sehingga memenuhi kriteria untuk penggunaan secara darurat," kata Hahn.

Namun status penggunaan darurat berbeda dengan membolehkan secara umum. Sebab, cara itu hanya dilakukan hanya bagi orang-orang yang mau mencoba. "Kami masih menunggu tambahan data. Kami sangat senang dengan hasil ini," imbuh Hahn.

FDA menganjurkan para penyintas COVID-19 untuk mendonorkan darah mereka dengan harapan protein yang membentuk sistem kekebalan tubuh mereka dalam memerangi infeksi bisa membantu pasien lain. Menurut Hahn, sampai saat ini ada lebih dari 90 ribu penduduk AS yang bersedia mengikuti program donor, dan ada 70 ribu pasien virus corona yang mau mencoba terapi plasma.

Hahn membantah tuduhan ada tekanan dari Trump dan Gedung Putih supaya FDA mau menyetujui metode plasma darah. Sebab, dalam pidato di Gedung Putih pada Minggu (23/8) waktu setempat, Trump mengklaim bahwa penerapan metode plasma darah sempat terhambat oleh masalah politik.


"Saya pikir memang ada hal yang menghambat, tetapi kami berhasil mengatasinya pada akhir pekan lalu," kata Trump.

FDA sendiri telah mengizinkan transfusi plasma untuk pasien virus corona dalam kondisi tertentu, seperti uji klinis dan orang yang sakit parah. Berdasarkan laporan The Washington Post, FDA mengatakan lebih dari 70 ribu pasien virus di AS telah menerima transfusi semacam itu.

Terapi plasma darah diyakini dapat mendorong pasien untuk melawan COVID-19 lebih cepat dengan bantuan antibodi penyintas. "Produk ini mungkin akan efektif dalam melawan Covid-19 dan yang paling terkenal dan keuntungan potensial dari produk itu lebih besar dibandingkan risiko yang diketahui," demikian pernyataan resmi Badan Obat-obatan dan Makanan AS (FDA).

Metode pengobatan terapi plasma darah ini sebetulnya sudah digunakan pada sejumlah pasien di AS dan negara-negara lain. Namun, sejauh mana keefektifannya masih diperdebatkan oleh para ahli. Dan, beberapa ahli di antaranya telah memperingatkan bahwa hal itu dapat membawa efek samping.

"Convalescent plasma mungkin berhasil, meskipun masih perlu dibuktikan dalam uji klinis, tetapi tidak sebagai pengobatan penyelamatan untuk orang yang sudah sakit parah," kata Len Horovitz, spesialis paru di RS Lenox Hill, New York City.

(wk/luth)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait