Pemerintah Kongo mencatat wabah Ebola kembali merebak sejak 1 Juni lalu. Dalam epidemi kali ini, klaster penyebaran terjadi di ibu kota Mbandaka, yang dihuni sekitar lebih 500 ribu orang.
- Luthfiatun Nisa
- Rabu, 26 Agustus 2020 - 10:51 WIB
WowKeren - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan wabah virus Ebola dilaporkan kembali merebak di Republik Demokratik Kongo (DRC). Badan WHO wilayah Afrika menyatakan mencatat ada ratusan kasus infeksi baru selama tiga bulan belakangan. Di antara jumlah tersebut, 43 pasien dilaporkan meninggal.
Pemerintah Kongo mencatat wabah Ebola kembali merebak sejak 1 Juni lalu. Ini adalah yang kesebelas kali virus itu mewabah sejak 1976. Dalam epidemi kali ini, klaster penyebaran terjadi di ibu kota Mbandaka, yang dihuni sekitar lebih 500 ribu orang. Sementara dalam epidemi sebelumnya yang terjadi di Provinsi Kivu Utara dan Ituri menulari 3.481 orang, dan menewaskan sekitar 2.300 orang.
Akibat luasnya wilayah penyebaran yang mencakup 11 kawasan, WHO menyatakan bakal sulit membantu seluruh komunitas yang terdampak. Orang yang diduga terserang Ebola juga baru bisa ditangani lima hari setelah menunjukkan gejala.
"Hal ini sangat memprihatinkan karena semakin lama pasien tidak tertangani, maka kesempatan dia untuk bertahan hidup semakin menipis, dan virus bisa dengan cepat menyebar di antara masyarakat," kata Direktur WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam jumpa pers di Jenewa, Swiss, sebagaimana dikutip dari CNN.
Saat ini, kata Tedros, ada sejumlah hambatan yang terjadi di Kongo untuk menghadapi Ebola. Yakni mogok kerja yang dilakukan tenaga medis, yang akhirnya menghambat proses vaksinasi dan pemakaman korban. "Pemerintah Kongo harus segera mencari jalan keluarnya. Mereka memiliki tenaga medis yang cakap dalam menghadapi Ebola," kata Tedros.
Sebelumnya, Direktur Program Kedaruratan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Mike Ryan, mengatakan bahwa kasus Ebola di Kongo ini tidak terkontrol. "Penyakit ini aktif, tidak terkontrol," tutur Ryan dalam sebuah konferensi virtual pada Juli lalu.
Ryan menyoroti praktik penguburan terhadap korban. Menurutnya hal itu dapat menjadi momen penularan dan penyebaran Ebola pada 2018 lalu. Sejak Juni, jumlah kasus Ebola yang terdeteksi di daerah Mbandaka lebih tinggi dibandingkan saat Ebola ditemukan di daerah tersebut pada 2018 yakni sebanyak 54 kasus terkonfirmasi.
"Merespons Ebola di tengah-tengah pandemi COVID-19 yang sedang berlangsung adalah kompleks, tetapi kita tidak boleh membiarkan COVID-19 mengalihkan kita dari penanganan ancaman kesehatan mendesak lainnya," kata Direktur Regional WHO untuk Afrika, Matshidiso Moeti.
Menurut Moeti, kasus-kasus Ebola yang dilaporkan saat ini berada atau tersebar di daerah terpencil di hutan hujan lebat. Respons Ebola yang sedang berlangsung menghadapi kekurangan dana. Sejauh ini WHO telah mengucurkan USD 1,75 juta yang hanya dapat bertahan beberapa pekan.
"Ini menghasilkan respons yang mahal karena memastikan bahwa responden dan persediaan mencapai populasi yang terkena dampak sangat sulit," ujarnya.
Dukungan tambahan diperlukan guna meningkatkan upaya WHO, otoritas kesehatan Kongo, dan mitra secara cepat untuk memastikan semua masyarakat yang terkena dampak menerima layanan utama. Hal itu termasuk pendidikan kesehatan dan keterlibatan masyarakat, vaksinasi, pengujian, pelacakan kontak, serta perawatan.
Dalam enam pekan, lebih dari 12 ribu orang telah divaksinasi. Selama wabah 2018 d Provinsi Equateur, butuh dua pekan untuk memulai vaksinasi. Kali ini vaksinasi dimulai dalam waktu empat hari sejak wabah diumumkan.
(wk/luth)