Dirjen Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, Achmad Yurianto, menjelaskan bahwa persoalan tes corona bukan hanya perkara infrastruktur tes saja.
- Bertilia Puteri
- Kamis, 03 September 2020 - 17:37 WIB
WowKeren - Berdasarkan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tes corona (COVID-19) yang dilakukan di Indonesia idealnya mencapai 267 ribu orang dites per minggu. Sayangnya, Indonesia masih belum bisa memenuhi standar WHO tersebut dan baru mencapai 46 persen dari target.
Dirjen Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, Achmad Yurianto, lantas membongkar alasan tes corona masih minim di Indonesia. Mantan Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan COVID-19 tersebut menjelaskan bahwa persoalan ini tak terlepas dari sumber daya manusia (SDM).
"Kapasitas betul belum merata," tutur pria yang akrab disapa Yuri tersebut dalam webinar oleh Katadata.co.id x KawalCovid19, Kamis (3/9). "Beberapa daerah bisa membeli PCR tapi tidak mampu menciptakan SDM sehingga berjalan tidak maksimal."
Yuri menjelaskan bahwa persoalan tes corona bukan hanya perkara infrastruktur tes saja. Ketersediaan SDM yang mengoperasikan mesin-mesin tes PCR dan analis laboratorium juga penting.
"Ini yang harus diperhatikan. Penyelesaian testing bukan membeli mesin sebanyak- banyaknya," ungkap Yuri. "Di balik mesin ada SDM spesifik yang harus mengawasi. Nah ini tidak mudah."
Menurut Yuri, profesi sebagai analis laboratorium tidak banyak diminati oleh masyarakat Indonesia. Oleh sebab itu, SDM untuk melakukan tes di tengah pandemi pun kini kurang.
"Selama ini kita menganggap untuk analis lab kesehatan bukan sesuatu yang menarik dibandingkan pelayanan kesehatan, perawatan, dan sebagainya," tutur Yuri. "Sehingga produknya sedikit sekali karena dilihat sebagai sesuatu yang tidak menarik."
Sebelumnya, Juru Bicara Satgas COVID-19, Wiku Adisasmito, mengungkapkan bahwa jumlah tes corona di Tanah Air masih jauh dari standar WHO. "Standar WHO untuk periksa PCR minimal 1 per 1.000 penduduk per minggu. Saat ini jumlah penduduk 267 juta, kita perlu 267.700 orang per minggu. Indonesia baru mencapai 46,85 persen dari standar WHO," kata Wiku pada Senin (31/8).
Meski demikian, Wiku mengungkapkan ada progres signifikan dari jumlah tes corona pada pekan lalu. Ia pun berharap pemeriksaan COVID-19 di Indonesia bisa terus ditingkatkan.
"Pada periode 24-30 Agustus sudah mencapai 125.434, di mana kenaikannya tinggi dengan minggu sebelumnya, 17-24 Agustus 95.463," pungkas Wiku. "Dengan meningkatkan kinerja pemeriksaan lab ini harapannya pemeriksaan makin meningkat."
(wk/Bert)