Meninggalnya seorang calon dokter spesialis berinsial AB di Surabaya karena bunuh diri menimbulkan pertanyaan dari publik 'apakah benar ada praktek bullying dan senioritas di kalangan dokter?'
- Nidya Putri
- Jumat, 04 September 2020 - 11:47 WIB
WowKeren - Meninggalnya seorang calon dokter spesialis berinsial AB di Surabaya karena bunuh diri hingga saat ini masih menjadi perbincangan khalayak. Pasalnya, muncul dugaan adanya praktek bullying yang dilakukan para senior sehingga membuat korban melakukan aksi nekat mengakhiri hidup dengan meminum cairan pembersih.
Lantas, muncul pertanyaan terkait kebenaran adanya praktek bullying dan senioritas di kalangan dokter?
Menjawab pertanyaan tersebut, Spesialis jantung dr Vito A Damay, SpJP(K), MKes, FIHA, FICA, mengatakan bullying mungkin saja terjadi, dan memang tidak perlu tutup mata terhadap kondisi tersebut. Namun, hal tersebut bukanlah hal yang bisa dibenarkan.
"Sebagai dokter, bukan hanya soal kepandaian ilmu pengetahuan, namun lebih dari itu juga moral dan akhlaknya harus dijaga karena di situlah menurut saya makna sebenarnya seorang dokter," ungkap dr Vito dilansir detikcom, Jumat (4/9).
Lebih lanjut, dr Vito berpesan jika ada yang mengalami kasus serupa agar segera dibicarakan. Ia juga meminta agar masalah tersebut dibiarkan secara berlarut-larut.
"Pesan saya kepada rekan rekan sejawat dokter yang akan mendaftar atau sedang menjalani PPDS, Anda adalah dokter yang sudah disumpah, kakak senior dan adik tingkat diperlakukan selayaknya saudara sesuai sumpah kedokteran," pesannya. "Lingkungan PPDS adalah lingkungan yang seharusnya ilmiah, bermoral dan berakhlak tinggi. Apabila ada yang tidak selayaknya dilakukan oleh seseorang, kita bisa menilai dengan nurani kita segera bicarakan dengan senior atau guru yang Anda percaya."
Menurutnya, para pembuat aturan terkait PPDS juga perlu memastikan hak-hak dari para mahasiswa kedokteran. Ia kemudian menegaskan pengalaman yang ia jalani di masa residen (calon dokter spesialis) memang tidak mudah tetapi pada masa residennya tersebut ia merasa terbantu dengan para senior yang mendukungnya. "Kepada pembuat kebijakan terkait PPDS agar lebih memperhatikan hak-hak tenaga kesehatan dokter residen, seiring dengan kewajiban yang diembannya," pungkasnya.
Di lain tempat, praktisi kedokteran olahraga dr Andhika Raspati, SpKO juga tak membantah rumor tentang adanya bullying di kalangan dokter yang dilakukan oknum senior. Namun menurut dokter spesialis olahraga tersebut, hal itu tidak bisa disama-ratakan.
"Sudah ada dari dulu sebelumnya. Nggak semua spesialis, nggak semua center itu ada," ungkapnya. "Karena aku pribadi alhamdulillah aku waktu sekolah dulu tidak mengalami pembullyan atau penindasan oleh senior."
Adapun dampak bullying yang dimaksudkan pun beragam. Seperti beberapa junior mungkin merasa jadi lebih punya banyak pengalaman, misalnya ketika 'dikerjain' untuk lebih banyak jaga di IGD. Namun ketika bullying itu tidak berhubungan dengan proses belajar, maka akan ada banyak dampak negatif yang muncul.
(wk/nidy)