7 Orang Masih Dinyatakan Hilang, Tim SAR Klaim Tak Ada Lagi Korban Selamat Akibat Ledakan Beirut
Reuters
Dunia

Ledakan pada 4 Agustus di pelabuhan Beirut menewaskan sedikitnya 191 orang dan menjadi bencana paling mematikan di Lebanon. Satu bulan kemudian, tujuh orang masih dinyatakan hilang.

WowKeren - Petugas SAR mengatakan tidak ada lagi tanda-tanda bahwa ada korban selamat di reruntuhan gedung ledakan Beirut pada Sabtu (5/9) malam waktu setempat. Sebagaimana diketahui, ledakan dahsyat pada 4 Agustus di pelabuhan Beirut menewaskan sedikitnya 191 orang dan menjadi bencana paling mematikan di Lebanon. Satu bulan kemudian, tujuh orang masih dinyatakan hilang.

Pada Rabu (2/9) malam, seekor anjing pelacak yang dikerahkan oleh tim penyelamat dari Chile mendeteksi bau manusia di bawah bangunan runtuh yang rusak berat di lingkungan Gemmayzeh di dekat pelabuhan. Sensor berteknologi tinggi sebelumnya juga mendeteksi keberadaan detak jantung yang cukup jelas dan diikuti dengan pencarian oleh tim penyelamat.

Namun setelah tiga hari melakukan upaya pencarian, Anggota tim SAR Chile, Fransesco Lermanda, mengatakan bahwa tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan di bawah reruntuhan. "Sayangnya, hari ini kami dapat mengatakan bahwa secara teknis, kami tidak melihat tanda-tanda kehidupan di dalam gedung," ujarnya kepada media.

Dilansir dari CNN, Lermanda juga mengatakan bahwa dua petugas penyelamat telah menyelinap melalui terowongan untuk memeriksa setiap korban di lokasi rongga udara terakhir, tapi tidak menemukan satu orang pun di sana. Kendati demikian, Lermanda menuturkan upaya penyelamatan akan terus dilakukan untuk mengamankan zona tersebut dan memastikan tidak ada kemungkinan korban tertinggal di dalam reruntuhan.


Sementara itu, Insinyur Riyadh al-Assad mengatakan para pekerja telah membersihkan dua lapisan puing dan memeriksa tangga tapi mereka tidak menemukan siapa pun. Direktur Operasi Badan Pertahanan Sipil, Geroge Abou Moussa mengatakan kemungkinan untuk menemukan korban yang masih hidup sangatlah rendah. Anggota Penyelamat Chile lainnya, Walter Munoz, bahkan mengatakan kemungkinan untuk menemukan korban selamat hanyalah "dua persen".

Para pejabat Lebanon juga meyakini bahwa kemungkinan korban selamat yang bisa bertahan begitu lama di bawah reruntuhan sangatlah kecil. Namun sebaliknya, Perwira Pertahanan Sipil, Qassem Khater, mengatakan timnya bertekad untuk tidak menyerah. "Kami tidak akan meninggalkan lokasi sampai kami selesai melewati puing-puing, bahkan jika bangunan baru terancam runtuh," ujarnya.

Di sisi lain, Presiden Lebanon Michael Aoun telah menyatakan bahwa insiden ini disebabkan oleh meledaknya 2.750 ton amonium nitrat yang tersimpan di sebuah gudang di dekat pelabuhan selama lebih dari enam tahun. Bahan tersebut seharusnya dikirim ke Mozambik dari Georgia. Namun kapal tidak diizinkan meninggalkan Beirut karena belum membayar biaya pelabuhan.

Aoun juga menyebut total nilai kerugian akibat ledakan di Pelabuhan Beirut mencapai USD 15 miliar atau setara dengan Rp221 triliun. Selain itu, ledakan tersebut menewaskan 200 orang dengan ribuan warga yang terluka, menghancurkan area hingga radius 5 kilometer. Disebutkan pula sebanyak 300 ribu penduduk Libanon kehilangan tempat tinggal layak akibat hancur atau rusak berat terdampak ledakan.

Dua ledakan besar yang mengguncang Beirut terjadi di tengah krisis ekonomi dan pandemi COVID-19 yang menghimpit Lebanon. Warga Lebanon turun ke jalan-jalan untuk berunjuk rasa memprotes pemerintah selepas insiden ledakan terjadi.

(wk/luth)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait